Ok Google

Today I taught my mother how to use Google Assistant on her phone. After she joined an SMS quiz some days ago (just for fun, and she insisted that it’s free, so it’s not considered as gambling), she started asking me about different things a lot. I thought it would save me the problem to answer her trivial questions if I teach her how to use Google Assistant. So I did.

“Ok Google, what is the currency of Kuwait?” she asked and not long after that Google gave her answer.

“Uh oh, what should I say now? Ah, thank you, Google!”

LOL.

That really cracked me up. I’ve never heard anyone thank Google before her. Really. Grandparents, well done, you raised her good, rest in peace. She is a good person.

May Allah bless you to live healthy and happily, Mom! :)

Iklan

Raising Hackers

My parents have been raising me as a hacker.

That’s what I thought when I recently looked back at my life so far. For any broken things around the house, they always encouraged me to fix them first, and not in haste to give them up and trash them away. They even pestered me to collect and recycle the trashes and turn them into money. It’s troublesome sometimes, although it’s pretty understandable because we’re just middle-class family.

My parents also frequently encouraged me to be a DIY person. Instead of in haste to buy things I need, in their eyes, I had the skill to build them up myself or create something new from something that I already have. I’ve been raised and encouraged to be an independent problem solver and that kind of mental model has become a part of designer that I am today.

Because I’m a parent too now, what can I learn from that parenting method?

First, it’s about delayed gratification. The Stanford marshmallow experiment showed unexpected correlations between the results of delayed gratification from the marshmallow test and the success of the children many years later. It doesn’t mean that I’m the living proof and I’ve become successful person now, no. I just think that raising the kids to be lifehackers has high probability to make the kids successful in their lives because it conforms to that delayed gratification principle.

Second, it’s about trusting our children. We can’t raise independent children by not giving them trust. Trust and independence go hand in hand. To raise lifehackers is to give the kids the freedom, the independence to try and explore different things. To ngulik, in Indonesian term. And it needs our trust.

Third, raising DIY children means raising problem solvers. This world needs more problem solvers and fewer politicians. :) The world needs individuals who not only have the desire to make the world better but also the knowledge and skills to do so. That means, the parents themselves need to have broad knowledge and skills. We need to constantly polish our skills and pass them along to the children.

That’s what I thought. I’m on my way to raise another hackers.

 

— written in the condition of injured right hand, trying to hack everything and keep working

 

 

Compromise

In other words, it’s impossible to shape a design without also shaping its compromises. This design-compromise two-sided coin, yin-and-yang thing isn’t new, and it isn’t going away.

This year, flagship smartphones might struggle with building edge-to-edge screens with great biometric security without sacrificing aesthetics. In a few years’ time the problem will be solved—but by then we’d want to do even more in an even smaller phone.

So what does this all mean? What’s the takeaway here?

If you’re a designer, it’s this: learn to see design and compromise in the same way physicists had learnt to see electricity and magnetism. Design isn’t just about deciding which features to implement, or which user flows to enhance. It’s simultaneously about which features you have to delay or omit, which users’ needs you’ll need to forgo.

The design process shouldn’t be a story of “We’ve achieved [feature], we’re amazing!” but a more grounded narrative of “In order to implement this feature, we’ve had to sacrifice [compromise]—so [feature] better be worth [compromise].” The latter makes it clear that design isn’t just about pushing forward and gaining new ground, it’s also about managing the compromises that had to be suffered as a result of design decisions.

If you as a designer don’t know what compromises you are introducing to your product, then you need to start keeping track, because design decisions are compromises.

If you’re not a designer, learn to realize that a “no-compromise” product, service, life partner, or whatever only exists in marketing land. This helps you make decisions with greater clarity: it’s not about which product has less compromises, but rather which compromises matter the least to you.

From Teo Yu Siang’s post on Medium.

Hagi in Masjid

Jujur, tadi aku sama sekali tidak khusyu’ ketika sholat maghrib di masjid dekat rumah. Tadi adalah kali kedua aku mengajak Hagi (hampir berumur 2 tahun lebih 2 bulan) ke masjid dan aku berulang-ulang memperhatikannya di sampingku mengikuti gerakan sholat.

Dia. Di sampingku. Mengikuti gerakan sholat. Masya Allah!

Sedikit menoleh kesana kemari, tetapi kurasa semua gerakan sholat diikuti olehnya. Kadang, ketika dia terlalu cepat bangun dari sujud, dan melihat sekelilingnya masih sujud, maka dia bersujud kembali. Sungguh lucu. Ketika kami takbir dia takbir, ketika ruku’ dia pun ruku’, sujud dan duduk pun diikuti semampunya.

Sungguh, untuk seorang bapak yang pemalas, yang jarang sekali ke masjid, pemandangan tadi adalah suatu kebahagiaan. Ketika pulang langsung kubangga-banggakan kepada ibunya, kuciumi pipi dan keningnya. Senang sekali rasanya.

Semoga aku bisa menjadi bapak yang senantiasa memberi contoh dan mengajak anak-anaknya kepada kebaikan. Tidak hanya sekedar memerintah dan memberi komando, tetapi benar-benar menjadi teladan. Maghrib tadi adalah ajakan kepada anakku untuk memakmurkan masjid.

Ya Allah, dalem nyuwun diparingi istiqomah.

Hagi at Daycare

Kemarin lusa adalah hari pertama Hagi belajar di taman penitipan anak. Beberapa hari sebelumnya, aku pernah mengajaknya ke tempat yang sama hanya untuk sekedar melihat-lihat dan mencoba wahana permainan yang ada. Jadi kemarin ketika dia mulai kutitipkan, prosesnya cukup mudah. Apalagi, ada dua kakak sepupunya yang sudah lebih dahulu dititipkan di tempat itu.

Menitipkan anak di day care adalah pilihan yang tidak sembarangan. Apalagi aku adalah stay-at-home dad, jadi sebenarnya aku pun bisa menjaganya di rumah sembari bekerja. Namun, jika aku hendak mengantarkan istriku ke kantor, atau ada keperluan lainnya, maka kami harus menitipkan Hagi ke neneknya. Itu cukup merepotkan untuk ibuku, karena beliau sudah cukup sepuh, dan Hagi adalah anak yang sangat-sangat aktif. Apalagi rumah ini adalah rumah komunal—begitu aku menyebutnya—dengan barang-barang yang saling bercampur, dan ada tiga kepala keluarga di sini. Aku tidak leluasa untuk menyulapnya menjadi kid-proof zone dan Hagi pun tidak leluasa untuk bermain dengan aman.

Selain itu, banyak anak-anak kerabatku yang lebih mandiri dan terasah social-skill mereka setelah banyak bermain dengan teman yang sebaya. Ada yang dulunya enggan untuk ngomong, kini menjadi lebih ceriwis. Bahkan ada yang sudah ceriwis keminggris, jago berbahasa Inggris. Ada pula yang dulu sangat pelit berbagi mainan, kini menjadi lebih berbagi. Kekurangan teman sebaya itulah yang hendak kututupi dengan menitipkan Hagi di day care.

Berikut ini adalah sedikit tips berkenaan dengan taman penitipan anak (TPA) atau day care:

  1. Tentukan prioritas. Apakah benar-benar membutuhkan day care? Lantas, ingin memilih yang dekat dengan tempat kerja atau rumah? Catat semua dan buat daftar.
  2. Galilah info mengenai day care jauh-jauh hari sebelum benar-benar membutuhkannya. Seringkali, TPA membatasi jumlah anak yang dititipkan. Jadi lebih baik sesegera mungkin daripada menyesal di kemudian hari.
  3. Gunakan internet. Selain bertanya kepada sanak famili dan kerabat, peramban internet pun ada untuk membantu mencari TPA dengan reputasi yang baik.
  4. Sebaiknya memilih TPA yang sudah terdaftar di Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar, dan Menengah. Menurutku, TPA yang demikian terkesan tidak main-main, tidak hanya mementingkan faktor bisnis semata.
  5. Perhatikan rasio antara guru atau pengasuh dan anak asuh. Hindari TPA dengan jumlah pengasuh yang terlalu sedikit. Untuk balita, rasio yang disarankan adalah 1:3, 1 pengasuh untuk 3 anak asuh. Namun rasio ini bergantung kepada kondisi dan luas TPA, serta dapat berubah seiring pertambahan umur anak asuh.
  6. Wawancarai para pengasuh dan gali latar belakang mereka. Apakah mereka pernah menempuh pendidikan mengenai anak usia dini?
  7. Tanyakan aturan-aturan dasar, kurikulum, kelengkapan fasilitas bermain dan belajar, jadwal kegiatan dan istirahat atau tidur siang, bagaimana aturan tentang anak yang sakit (apalagi jika ada yang sakitnya menular), kualitas dan kebersihan makanan atau snack yang disajikan, fasilitas sanitasi, dan aturan penjemputan anak.
  8. Beri tahu semua info tentang anak yang sekiranya perlu diketahui oleh para pengasuh. Apakah ada perilaku khusus? Apakah anak mempunyai alergi? Jelaskan semua.
  9. Ajaklah anak untuk mengunjungi day care yang telah lolos kualifikasi kita. Biarkan mereka mencobanya sendiri dan berkenalan dengan calon pengasuhnya. Lebih baik secara berulang beberapa kali sebelum benar-benar menitipkan si anak di tempat itu.
  10. Trust your gut. Seringkali, jika memang ada yang tidak berkenan di hati berarti memang TPA itu tidak ditakdirkan untuk putra-putri kita. Jangan berputus asa, lebih baik mencari TPA yang lain.

Tidak ingin menitipkan anak di TPA pun tak mengapa. Jika memang mampu, dan lebih banyak kebaikan untuk si anak jika diasuh di rumah, maka itu lebih baik. Bahkan, jika memang bisa, bekerjalah di rumah sambil mengasuh anak, itu pilihan orang tua yang keren. Semoga, kelak jika Hagi sedikit lebih besar, aku diberikan kemampuan yang sedemikian. Amiin.

Curiosity

Kemarin siang, aku mengajak Hagi menonton film dokumenter BBC dan IMAX, film-film tentang natural wonders, yang kukoleksi. Tadi giliran film Under the Sea dari IMAX. Dia kududukkan di singgasanaku, sedangkan aku ngglempoh, duduk di lantai.

Ikan-ikan pun akhirnya muncul di layar monitor. Dan seperti bisa kutebak, dia mulai menunjuk-nunjuk dengan antusias. Aku pun menjawab dengan tak kalah semangat, menyebutkan dan menerjemahkan satu per satu nama-nama ikan yang kuketahui.

Lantas, tiba-tiba saja aku teringat video di bawah ini, video yang sempat membuatku mewek beberapa waktu lalu.

Setelah mempunyai anak dan menjadi orang tua, barulah aku benar-benar memahami beratnya pengorbanan orang tuaku. Terkadang, kugunakan lidah yang tajam, padahal merekalah yang mengenalkanku pada kata-kata. Terkadang kupandang rendah mereka, padahal merekalah yang mengenalkanku pada dunia.

Gestural Boy

Hagi sudah berumur 441 hari. Atau 1 tahun, 2 bulan, 15 hari. Atau 14,5 bulan.

Seperti yang pernah aku tweet, dia berkembang menjadi anak dengan mercurial temper. Meskipun demikian, kondisinya masih bisa dikatakan wajar dan tidak terlalu sering mengalami perubahan mood yang terlalu ekstrim. But, boy, he sure is lively. Lari sana, lari sini. Panjat kursi sana, panjat tempat tidur sini. Cekatan, seperti namanya.

Oh ya, aku belum bilang, dia sudah bisa berjalan, sedikit sering berlari malahan. Alkhamdulillah. Dan di usia ini, dia sudah memiliki gesture vocabulary yang jauh beragam. Aku pernah menuliskan tentang bagaimana dia suka menirukan gayaku minum kopi, itu masih dilakoninya sampai sekarang, meski tidak sering lagi. Dia sekarang juga suka mengatupkan tangan seperti berdoa, ketika mendengarkan kami berdoa, atau ada yang mengaji. Kadang dia juga berdiri di sampingku, ikut berdiri bersendekap (dengan gesture tangan yang lucu) dan sujud, ketika aku sholat. Ibunya senang sekali melihatnya.

Dia suka dipijit sebelum tidur, jadi seringkali dia menyodorkan kakinya untuk dipijit. Atau menyodorkan bantal kecil, untuk mengipasinya. Ketika tertawa terbahak-bahak, dia sering menutup mulutnya dengan kedua tangan. Entah kebiasaan baik dari mana ini yang dia tiru, karena kami orang tuanya malah tidak demikian ketika tertawa.

Dia juga cukup sering rebutan remote TV dengan kakak-kakak sepupunya, suka memindah-mindah channel TV secara acak dan menjengkelkan penonton lainnya. Kadang apapun yang serupa remote dijadikannya remote, meskipun itu handphone atau tempat bedak sekalipun. Komputerku adalah gadget lain yang sering dijadikannya mainan. Tombol keyboard favoritnya adalah tombol Windows (gambar jendela), karena ketika tombol itu dipencet, kotak-kotak menu Windows 8 akan segera bermunculan. He likes them. Hehe, one step closer to be a hacker.

My lil' hacker

Ada juga gadget lain yang tidak terlalu dia suka: hair-dryer ibunya dan jam wekerku. Mungkin karena keduanya mengeluarkan bunyi aneh dan tampak berbahaya. Kadang ketika ibunya mengeringkan rambut, alih-alih berlari menjauh dia malah segera berlari ke arah ibunya sembari memasang wajah khawatir. “Itu berbahaya, jangan pakai itu!” mungkin begitu pikirnya, seolah mengingatkan. Tetapi itu hanya kadang-kadang, yang sering adalah dia berlari menjauh, mencari perlindungan ke arah orang lain yang dikenalnya.

Hagi sudah jauh lebih bisa diajak berkomunikasi sekarang. Kami kadang memintanya mengambil barang, dan dia mau mengambilkannya. Kadang kami pura-pura tidak tahu lantas bertanya di mana botol susunya berada, dan dialah yang menunjukkannya. Hanya saja, kami sedikit khawatir karena kemampuan komunikasi gesturalnya justru berbanding terbalik dengan komunikasi verbal. Dulu dia lebih sering berkata-kata, sudah bisa ngomong beberapa kata seperti “bapak”, “gajah”, dan “kuda”. Kini dia hanya lebih sering menunjuk-nunjuk sambil mengeluarkan suara-suara seperti dulu ketika dia masih bayi kecil. Ada yang bilang mungkin dia terlalu fokus untuk berlatih berdiri dan berjalan sehingga dia lupa pelajaran berkata-kata yang telah lalu. Jadi untuk saat ini kami masih menganggapnya sebagai hal yang wajar saja.