Latest Updates: uklam RSS
-
RukmaPratista
-
RukmaPratista
Aku ngakak terus kalo inget kejadian kemarin siang sama Ukas. Bener-bener generasi Warkop DKI! Nggak tahan untuk nggak cerita.
Jadi gini, kemarin siang aku sama Ukas mau ke BEC (mall para nerd), si Ukas mau beli sesuatu. Terus aku yang bawa motor, kuboncenglah dia. Udah jalan rada lama, sekitar 600-an meter, aku nunjuk ke cewek, yang wajahnya mirip dengan madonna kampusku. Eh, kok Ukas diem aja, tumben, kalo soal cewek biasanya dia cepet nyaut. Trus aku masih aja ngoceh, eh dia kok gak nyahut juga. Trus kutoleh ke belakang.
DIA TERNYATA KETINGGALAN!
Wakakakakakakak. Konyol abis!
Jadi waktu naik tanjakan di deket rumahnya, ternyata Ukas itu turun katanya biar gak berat naiknya. Nah aku nggak ngerasa, udah jalan lumayan jauh baru nyadar. Bayangin gimana kagetnya aku, waktu tiba-tiba tau dia gak ada di belakang. Hahahahahahaha. Dagelan abis. Akhirnya aku balik lagi jemput dia dan sepanjang jalan ke BEC ketawa terus, gak berhenti-henti.
Pekoooook!
-
RukmaPratista
I tend to judge books by their covers. Apalagi buku-buku seni, craft, atau desain.
Ibaratnya orang jual jamu obat batuk, kalo yang jual sendiri ternyata sakit batuk, apa ya masih kamu beli obatnya? Nah, sama. Buku desain, tentang sotopop gitu misalnya, kalo covernya gak mbois blas atau malah njiplak, beuh, dijamin gak bakal kusentuh.
Ngelihat buku yang judulnya menarik gitu misalnya, wah ternyata covernya gak mbois, aku skip. Nyari lagi, masih gak mbois, skip. Dan kalo udah nemu buku yang covernya malah njiplak sama persis kaya artwork di internet, mulai deh aku ngomel-ngomel. Tak semprot-semprot, tak wuelek-wuelekno, bahkan kalopun temanku ngomong kontennya bagus, tetep gak bakal kusentuh, apalagi kubeli.
Moral from this story adalah : hindarilah mengajakku ke toko buku, apalagi kalo moodku lagi jelek. Bisa jadi sasaran omelanku nanti. :p
-
RukmaPratista
Walking side by side, dengan orang yang disayangi,
selalu menimbulkan sensasi yang gimanaaa gitu.Sensasi aneh.
Love it. -
RukmaPratista
Untuk yang belum tahu, jubir kepresidenan Republik Cap Coro telah mendirikan negara baru (ngakunya sih hanya kota satelit). Masih dengan gaya kepemimpinan Hafiz Rahmansengeng, masih terlihat dia mencoba untuk tetap sesuai standar. Sungguh beda dengan Republik ini. Hihihi.
Monggo mampir di Colorwalk. Karena si Coro ini sebentar saja juga sudah demen dengan republik baru itu.
P.S: ‘untuk yang belum tahu’ ? Pengunjungmu itu cuman segelintir Ro!
-
RukmaPratista
Kesan hari ini.
Sangat capek.
Hariku dimulai dengan menuntun motor yang ban belakangnya bocor sejauh 500 m ke tukang tambal ban. Lantas mengantar bapak ke notaris PPAT. Mengambil motor, kemudian pergi ke Polresta Malang untuk memperpanjang SIM. Owh crap, sudah pukul 12 lewat, tutuplah kantornya. Kantor pelayanan masyarakat macam apa ini, baru pukul 12 sudah tutup. Aku harus kembali ke sana hari Senin (crap, betul jaremu Fiz, aku akhirnya harus di Malang lebih lama).
Mengumpat-umpat seperti biasa.
Pulang, baru dateng, diembankan tugas lagi untuk menjemput keponakan yang sekolah di SD yang sama denganku dulu. Mampir beli madu juga, kata si pemberi tugas. Huff, baiklah. Berangkat lagi. Done.
Belum selesai teman, aku berangkat lagi ke pasar besar, ke pak Solikhin, tukang servis kamera, langganannya wartawan-wartawan Malang (sudah jago orang itu). Ternyata pak Solikhin lagi sakit, kata anaknya kemungkinan kameranya bakal selesai kira-kira hari Senin (wah berarti tidak bisa kupakai kencan). Ok deh gak papa, kutinggal di sana. Lanjut potong rambut, kasiyan si nduk, pacarnya jerawatan gara-gara gondrong. Salon Intan di Sawojajar, lulusan Jerman stylistnya, murah lagi. Sip deh. Done.
Huff capek, belum, masih belum tuntas teman. Aku ke Pakis. Berputar 4 kali antara Bandara Abdul Rahman Saleh (gitu ya namanya?) dan Wendit Water Park. Mana thoooo rumahnya si nduk ini, kok posko PDI sebagai markingku sebelum masuk gang rumahnya sudah raib entah ke mana. Ah, siyaaaal. Tapi akhirnya nemu juga.
Kulo nuwun, assalamualaikum. Dan muncullah, wanita tercantik yang kutemui di kota ini setelah dua hari di Malang. Maka musnahlah segala letih lelah dan kejengkelan hati. Aaaah, Subhanalloh. Maha Suci Engkau.
Kamu cantik nduk, sangat cantik.
-
RukmaPratista
Langgar.
Wah, di Bandung mungkin tidak mengenal kata itu. Kalaupun tahu, mungkin artinya berbeda. Langgar yang kumaksud itu mushola, masjid kecil.
Sudah lama aku tidak berjamaah di langgar dekat rumah di Malang, salah satu ruang publik yang tersisa dari kenangan masa kecilku yang masih polos dan alim. Kangen. Maka aku tadi ke sana. Wui, ternyata banyak sekali perubahan.
Ada yang lucu. Kugambar saja ya, biar gampang.

Jadi, I itu posisi imam, X posisi jamaah pria, dan O adalah posisi jamaah wanita.
Wah, dunia sudah benar-benar terjungkir. Bukannya wanita itu lebih dianjurkan sholat di rumah, sedangkan para prialah yang diperintahkan untuk meramaikan masjid? Lantas, saking kecilnya langgar itu, dan saking banyaknya jamaah wanita, batas shaf (warna merah) jadi aneh seperti itu. Hihihi.
Piye tho ki?
-
RukmaPratista
Hari ini kok apes ya.
Dimulai dari makan di Nasi Bancakan.
Sebenarnya, Nasi Bancakan terkenal lumayan murah (untuk porsi normal). Menyediakan berbagai macam masakan Sunda. Masakan Sunda = banyak sayuran hijau = aku KALAP LALAP! Biasanya, orang-orang yang datang ke situ memilih lauk terlebih dahulu, baru kemudian sayur, lantas makanan penutup. Namun aku beda. Aku langsung mengambil piring terpisah buat numpuk lalapan dan sayuran, daun singkong, daun pepaya, jamur, terong dan mentimun, sayuran berkuah, sambal hijau, sambal merah, sambal oncom. Setelah puas, aku baru memilih lauk pauk dan minuman. Itu pun nggak tanggung-tanggung. Dua gepuk (empal), dua tempe goreng, dan ditutup dengan satu gelas Es Goyobot (aku sibuk mikir artinya apa, sampe gak mikir lagi harganya).
Total, habis 30 ribu.
MasyaAlloh. Padahal kalo porsi normal, cukup dengan 15 ribu sudah kenyang banget lho. HEDOOON!
Alhamdulillah kenyang. Berlanjut dengan potong rambut.
Rambut gondrong = JERAWAT SPORADIS. Jika rambutku menutup muka dan pipi, besoknya kulit mukaku pasti jadi merah-merah, dan nggak menunggu lama pasti keluar jerawat. Sensi banget. Nggak ditakdirkan bisa jadi artis sinetron gondrong ala Baim Wong (WTH! Nggak bakal).
Hmm, barber di dekat kost nggak pernah memberi hasil memuaskan. Sekali-kali nyalon di Bandung. Harganya dua kali lipat sih, tapi kok sepertinya lebih menjanjikan. Ok, berangkat deh, sambil nyanyi-nyanyi kekenyangan.
“Shaggy mbak, yang depan dipotong dikiiit aja” aku bilang gitu. Berhubung aku rabun, minus 2,75, apalah daya, aku nggak bisa ngaca. Jadi akhirnya nasib rambutku kupasrahkan ke mbak-mbak salon itu.
Setelah kelar, bilas, dikeringkan, aku ngaca. DUARR!
Rambutku jadi mirip orang idiot. Bagian belakang masih panjang, bagian depan pendek banget. HUWAAAA! Siyaaal! Ini mah bukan shaggy atuh mbak! Barber deket rumah aja masih lebih becus! Pengen kudamprat, tapi aku kan orang yang lemah lembut, jadi akhirnya aku melangkah gontai pulang ke rumah, sambil ngomel-ngomel.
DUH! KEPUNCRUUUT!
-
RukmaPratista
… Lalu ia lebih semangat bercerita kenapa kiri lebih baik ketimbang kanan, dan kenapa pembagian vertikal lebih masuk akal ketimbang horizontal. Kalian mengajar tabik dengan tangan kanan dan menyebutnya sopan, tetapi manusia cukup dengan sisi kirinya saja sebab jantung ada di dada kiri dan cebok lebih penting ketimbang salaman, sebab yang pertama adalah demi kebersihan dan yang terakhir adalah demi basa-basi. Jangan membagi langit dan bumi tetapi bagilah kanan dan kiri sebab kaki tak bisa berjalan tanpa kepala namun kepalamu juga akan njeblug keracunan jika tak ada dubur dan liang kemih untuk membuang kotoran. Atas dan bawah adalah bagian yang tak terpisahkan, tetapi kanan dan kiri bisa hidup sendiri-sendiri. Jika kamu memisahkan lapis atas dan bawah, kamu menguraikan. Namun jika kamu memilahkan kanan dan kiri, kamu menggandakan. Begitulah beda logika sintagmatik dan paradigmatik….
— Larung
Aku suka logika lelaki yang tubuhnya hanya terbentuk dari organ-organ sebelah kiri saja ini.
Hihihi. Tadi terkekeh sendirian di pojok Hokben sambil maem katsu.
-
RukmaPratista
Pagi ini aku mau refreshing.
Bawa novel Larung.
Nyari tempat sepi.
Sarapan sama minum kopi, sama baca novel.
Trus ke Gramedia.
Mungkin nanti malam baru megawe lagi.AWEtism, Part 2.