Sepulang dari Bali

Baru kemarin aku sadar kenapa aku begitu tertarik dengan fotografi.

Bukan semata karena aku bisa memainkan cahaya sesukaku, bukan karena aku bisa membingkai warna-warna indah dunia, bukan karena fisika dan prinsip kerja kamera yang membuatku kembali seperti anak kecil yang selalu ingin tahu, bukan karena aku gila keindahan, bukan karena aku pecinta dan penikmat seni, bukan karena semua itu.

Namun terlebih karena aku manusia, dan aku ingin bercerita. Sesederhana itu.

Tentang Kacamataku

I love my new glasses.

Tidak terlalu baru sih, tapi juga masih belum lama. Dan tiba-tiba aku sedang ingin membahasnya sekarang.

Well, seperti yang para pembaca setia Cap Coro ketahui (haiyyah), aku getol memburu kacamata nerd beberapa bulan terakhir. Kacamataku yang lama patah dan entah aku tidak ingat sudah berapa kali lem Alteco kugunakan untuk menyatukan patahannya. Aku bertahan setahun menggunakan kacamata tambalan. Maka dimulailah misi aku mencari dan mencari kacamata yang murah dan keren. Dan Februari lalu pencarianku berakhir di Matos Malang.

Fitur yang paling kusuka dari kacamataku yang baru tentu saja adalah bingkainya yang tebal dan nerdy. Plastik, coklat, dan glossy. Kata si Nduk lebih bagus yang coklat (waktu itu ada warna coklat, hitam, dan ungu) karena kesannya jadi tidak kaku, warnanya ngeblend (you know what, she really read my mind that time, ketika aku sedang memilih-milih warna).

Kini, kacamata coklatku juga tidak lagi menggunakan bantalan hidung tambahan. Masalah yang paling sering membuatku dongkol dengan kacamata berbantalan hidung tambahan adalah munculnya lendir-lendir hijau yang lengket dan susah dibersihkan di bagian bantalan hidung tersebut. Nah, sekarang aku tidak lagi repot, karena bantalan hidung kacamataku menyatu dengan frame. Agak sering melorot jadinya, tapi aku jadi mempunyai gaya menaikkan kacamata yang cool abis (muhahaha).

Ah, aku jadi ingat, aku harus membeli beberapa frame lagi. Mungkin 3 atau 4 frame lagi sebagai cadangan. Lha wong murah meriah, satu frame 100 ribu rupiah saja. Ya ya, kan kuingat-ingat rencana ini jika sudah gajian.

Dengan tambahan kaos geek Tretles baru, kado dari Hafiz dan istrinya, Hidayatul, aku sungguh tampak mempesona di Firefox 4 Launching Party tempo hari. Keliatan sekali nerdesigner nan trendy (nak, letakkan kembali sandal yang kan kau lempar!). Hihihi.

Maturunuwun ya Alloh. ;D

Supply Chain

Seperti halnya ketika memulai bisnis, faktor yang membuat pindahanku ke Malang dari Bandung berasa sedikit rumit dan menyebalkan adalah mencari supply chain baru.

Misalnya saja, ketika aku ingin memproduksi desain kaos baru, di Bandung aku sudah mempunyai tukang sendiri langgananku. Enak, kerjaannya rapi, dan bisa dipercaya. Atau ketika aku musti beli-beli peripheral komputer, gadget, dsb, di Bandung langgananku adalah mall BEC. One-stop shopping di situ. Namun ketika aku kini menetap di Malang, maka aku harus mencari lagi para penjual, produsen, atau pemasok-pemasok barang-barang yang kubutuhkan.

Trial and error lagi. Membangun supply chain baru lagi.

Pagi ini misalnya, aku membutuhkan DVD blank yang cukup banyak dan tentunya murah. Jika di Bandung, langgananku adalah Bourma Setiabudi. Dan kini, entah ke pelosok Malang mana yang harus kutuju.

:)

Yo wis lah, membangun emporium, dinasti, memang takkan bisa dalam waktu semalaman. Tetap semangat ngupoyo upo, Rukma!

Ada yang butuh ganti kulit jok motor?

Jika ada, dan jika Anda berdomisili di Bandung, kurekomendasikan servis ganti jok motor di Dago atas, sebelah kiri pom bensin Dago, dekat terminal. Bengkelnya kecil, pun pilihan kulit joknya tidak begitu beragam. Namun kujamin empat puluh ribu rupiah yang Anda keluarkan akan setimpal, tak akan merugi.

Kepadamu, wahai anak muda pengganti kulit jok motor, kuucapkan terima kasih karena telah menunjukkan kepadaku kelihaianmu, kerapian, dan kesungguhanmu dalam pekerjaanmu. Betapa hal itu sungguh jarang kutemui di kota busuk ini. Tulisan ini hanyalah sebagai pengganti uang tip yang tidak jadi kuberikan sore tadi.

Kembali Malang

Aku gak sreg dengan nama event Malang Kembali. Back to what? Jeneng’e Malang ilo wis memper-memper kesialan, trus ditambahi Kembali. Dadi krungune: siyal maneh!

Sik mending sing biyen, Malang Tempo Dulu tah opo iku. Maksute jelas, dari nama event itu. Ato pake basa Jawa sekalian, sing rodok nyleneh. Malang Lawas, Malang Kewut tah opo ngunu, kekekekek. Sing temping catchy dan unik.

Wong kene iku gak nganggep pentik naming se masalahe, cih!

Btw, aku durung tau nang Malang Kembali rek, penasaraaan… T_T

P.S:
Temping dan pentik bukan typo! :p

When I miss the old days

Kemarin sore, aku bareng Ukas nongkrong di food court BEC, Bandung. Ukas maen WiFi dengan laptopnya, aku baca majalah CHIP dan sesekali internetan juga pake HP.

CHIP mbahas hardware-hardware dan teknologi komputer terbaru. Trus tiba-tiba saja aku dan Ukas sadar bahwa kami berdua sudah sangat sangat berbeda dibanding dulu. In terms of being a geek.

Well, dulu, kami hafal banget seri-seri processor komputer, mana yang lebih baik antara satu dengan yang lain, mana yang lebih cocok untuk game, teknologi-teknologi fabrikasi di dalam perangkat-perangkat semikonduktor tersebut, dsb. Kita juga hafal dengan seri-seri VGA card dan motherboard, dan tahu sangat banyak tentang periferal komputer lainnya. Pendek kata, we were waaaaay more geek than who we are right now. Tapi kini, lompatan inovasi teknologi sudah tidak bisa lagi diikuti. Kami berdua sudah sangat tertinggal. Sigh. Aku dan Ukas sedikit bernostalgia sore itu.

Trus aku mikir. Pertanyaannya, penting tah menjadi geek seperti itu?

Penting. Menyerap ilmu sebanyak mungkin, apapun itu, mendalaminya, adalah penting. I urge you to do so. Being a geek is good. Tapi, apa yang akan kita perbuat dengan ilmu itu, adalah jauh lebih penting lagi. Ojok mek sukur ilmune ngendap nang utek, ra kanggo, akhire lali…

Lumayan, sore-sore kongkow-kongkow ilmu uripku nambah maneh, kekekekek…

Taksi Tahi

Bandung iku jan pancen kutho JIANCUK! Swering banget aku dikecewakan dengan pola perilaku masyarakatnya. Etos kerjanya jelek, suka nipu, pengen cari untung gampangan, kerja setengah-setengah, hedon, anak mudanya dugem thok, TAEK pokok’e.

Bayangin, ini tadi aku baru nyampe pulang dari Jakarta. Di stasiun, aku disambut dengan hujan deras dan para sopir taksi. Okelah, gak ada angkot, hujan pula, aku naik taksi aja. Tapi asem tenan. Dia minta 40 ribu, padahal biasanya cukup 20-25 ribu. Akhirnya setelah saling tawar menawar cukup alot, tarif jatuh di 30 ribu. Menerobos hujan lebat, aku mengikuti si sopir ke arah mobilnya.

Lantas apa yang kulihat? Sebuah mobil sejenis Daihatsu Carry, seperti yang sering digunakan untuk angkot, tipe yang lebih tua, kendaraan pribadi.

WTF! INI TAKSINYA??!! Setelah saling nego alot, ujung-ujungnya aku dapet taksi gelap, buluk pula ini??

Aku dah capek. Pengen cepet pulang. Akhirnya aku naik dan akhirnya kubayar 25 ribu.

TAI BENER.