Manusia tidak terdiri dari satu.
Semua manusia pasti mempunyai sosok-sosok yang tidak ingin dia perlihatkan kepada orang lain. Multiple Personality Disorder, dalam kamus psikologi, hanyalah kondisi yang berlebihan terhadap konsep itu. Itu menurutku. Disorder seperti itu hanyalah kondisi dimana mental alter-ego memberontak, mengambil alih ruang dan pemikiran dari kepribadian yang kita coba bentuk, dan dia melebihi ambang batas.
Apa ambang batasnya? Ya, lagi-lagi, society, tolok ukurnya selalu masyarakat. Seperti halnya orang gila, kenapa disebut gila? Mereka waras, menurutku, namun mereka mempunyai dunia sendiri, dunia yang sedikit berbeda dari masyarakat pada umumnya, maka mereka disebut gila. Lebih jelasnya begini, jika seorang ayah merasa bahwa dia adalah seorang ayah, berumur 35 tahun kala itu, lantas keesokan harinya jiwanya berkata bahwa dia adalah seorang anak-anak, umur 10 tahun, lantas keesokan harinya lagi adalah seorang wanita, berumur 25 tahun, sementara masyarakat pada umumnya tidak seperti itu, maka ayah itu mempunyai MPD. Sederhana.
Lantas, apakah ada dari kita yang tidak mempunyai kepribadian ganda, alter-ego? Kepribadian yang kita coba untuk tutupi? Sosok-sosok yang ingin kita tinggalkan dalam gelap, kita rahasiakan? Jika ada, aku meragukannya sebagai manusia. Mungkin dia nabi, namun aku yakin tidak ada lagi nabi, bahkan nabi pun kuyakin mempunyai kepribadian lain, maka dia bukan manusia.
P.S:
Sakjane aku nulis iki ngawur, sumpek, ngelu. Tanpa dasar ilmu, hanya persepsi. Ditulis, karena sosokku yang benar-benar ingin kupendam semakin mengerang untuk muncul ke permukaan.
WOI! AKU BUKAN HOMO! BUKAN ITU! NDUK, AKU MASIH DOYAN KAMU! <- tak dhisik’i sakdurunge ada yang ngasi komen kaya gitu.