Grammar Nazi

Semakin lama aku merasa OCD-ku semakin menggila. Akhir-akhir ini, aku kian merasa menjadi jerk seperti Sheldon Cooper.

Ketika naik motor di jalanan, hobi baruku adalah mencerca tulisan apapun yang terbaca, yang ditulis dengan ejaan atau kaidah yang salah. Suatu ketika, ada bimbel yang memasang banner di daerah Sawojajar menawarkan cara belajar yang unik, ‘Games Methode’ katanya. Methode. Bimbingan belajar. Ejaan salah. Keminggris. Kudamprat setengah mati! Lain hari, ada seorang mantan mahasiswa jurusan Teknik Mesin, memakai jaket bertuliskan ‘Machine Engineering’. Langsung saja ku-ghibah, kucaci maki. “Sing bener iku ‘Mechanical Engineering’! Mahasiswa kok ra intelek!”, kataku sengit sembari membonceng si Nduk.

Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan kekeliruan itu. Namanya juga manusia, khan? Namun, seringkali aku mendapat kesan bahwa kekeliruan itu akibat para ‘desainer’ ataupun ‘copy-writer’ di belakang layar yang bekerja asal-asalan. Tidak dicek ulang, asal jadi, instan. Dan itu yang sungguh sungguh sungguh membuatku muak. Apa sih susahnya membuka kamus, atau Google? Riset sedikitlah, boy!

Sigh. Sekarang memang jaman instan. Apa-apa inginnya langsung jadi, durian runtuh. Lha iya kalo durian runtuhnya pas di depanmu, enak, la kalo akhirnya nibani ndasmu? Mbonjrot perot.

Jangan menjadi generasi asal-asalan! Dilarang!

P.S:
Omong-omong soal OCD, aku baru saja selesai memberi tanda letak monitor di mejaku. Biar setelah digeser-geser dan diarahkan untuk nonton film dari kasur, bisa kembali lurus menghadap kursi dan sejajar dengan meja dengan mudah.

_/”"|o *parah*

Lebaran Old Skool

Seperti biasa, hampir di setiap perayaan lebaran, di setiap get-together yang diadakan oleh keluarga besarku di awal Muharram, aku bisa mencatat adanya suatu tema tertentu. Untuk Lebaran tahun ini, bertemakan sekolah.

Super. Boring.

Ada kerabat yang jauh-jauh menempuh studi lanjutan mengenai desain web di luar negeri hanya untuk mendapatkan ilmu yang kukira tak jauh beda dan tak lebih dalam dari hasil belajar mandiri dan gawenya temanku, si Hafiz. Ada juga kerabatku yang lainnya, yang rupanya bernasib hampir mirip denganku, terlambat menyadari bahwa kuliahnya dan passionnya yang sekarang sungguh jauh bertolak belakang. Ada juga yang curhat betapa rumitnya mencari penghidupan untuk membiayai anaknya yang bercita-cita untuk sekolah kedokteran. Dan aku, aku juga tak luput didesak-desak untuk melanjutkan sekolah S2.

Aih, old skool tenan.

“Ora sekolah, tapi kan belajar. Dan menghasilkan,” selalu begitu kilahku. Setiap aku berkilah, batinku selalu tertawa karena teringat oleh satu gelar lucu di satu halaman Facebook, Gelar BB., Sb. Pun setiap aku berkilah, aku selalu kembali bertanya apakah aku benar telah berkarya dan menghasilkan atau sekedar nggubis kepada orang-orang itu.

Jangan salah sangka, teman. Aku bukan anti-sekolah. Aku hanya anti kepada kemubadziran. Dan bolehlah sedikit ditambahkan bahwa aku memang malas untuk sekolah lagi. Menurutku, sekolah, khususnya kuliah di perguruan tinggi, mempunyai tiga manfaat utama. Yang pertama, berkaitan dengan waktu. Yang kedua, adalah komunitas. Dan yang ketiga adalah perolehan gelar.

Pertama, tentang waktu. Kukira, dengan sekolah, akan lebih mempercepat waktu belajarmu. Kita diberi sekian waktu jadwal untuk belajar di kelas, jadwal uji coba di lab, jadwal untuk belajar mandiri, serta jadwal lulus yang mau tidak mau mesti kita tepati karena kita terikat dengan sistem sekolah tersebut. Alokasi waktu yang telah terjadwal ini, serta kedisiplinan kita untuk menepatinya kukira akan mempercepat proses pemahaman kita, dibandingkan dengan jika kita otodidak atau belajar mandiri tanpa sekolah.

Namun, perkara waktu ini sungguh relatif. Banyak orang merasakan sulitnya untuk mengatur waktu, berdisiplin, dan menggiatkan diri untuk belajar mandiri. Aku pun turut merasakan kesulitan itu. Aku berperang sekian lama melawan ketidakdisiplinanku. Akan tetapi, seandainya saja kita mampu mengalokasikan waktu untuk belajar mandiri layaknya jadwal belajar di kelas, kukira itu sudah cukup menjadi modal untuk menolak sekolah. Dan aku, aku memilih jalan itu.

Kedua, perkara komunitas. Disadari atau tidak, belajar dengan orang banyak, berkelompok, bertemu dengan orang-orang yang mempelajari satu bidang ilmu yang sama dengan kita, adalah pengalaman yang sungguh menyenangkan. Selain itu, dari komunitas itu mungkin kita bisa mendapatkan mentor, guru, dosen, ‘penilai’ hasil belajar kita. Mungkin ada dari kita yang berkilah bahwa internet telah memfasilitasi hal itu, untuk bersosialisasi dan belajar bersama. Namun, kurasa, komunitas online di dunia maya belum bisa menggantikan komunitas yang terbentuk saat kita sekolah. Sahabat-sahabatku hingga kini adalah orang-orang yang dulu pernah satu SMP, satu SMA, atau satu perguruan tinggi denganku.

Lantas, solusinya? Ya bangunlah sendiri komunitas itu atau bergabung dengan komunitas yang sudah terbentuk. Jika ingin belajar fotografi, ya bergabung saja dengan komunitas fotografi, hunting bareng dengan mereka, silaturrahmi. Belajar mandiri lantas berkumpul dengan orang-orang yang berminat pada satu bidang ilmu yang sama adalah lebih baik daripada belajar nggethu dari buku, dari internet, praktek di mini lab di rumah, sendirian. Sudah terbukti.

Ketiga, perkara gelar. Dunia ini masih membutuhkan orang-orang dengan gelar tertentu. Tetapi di era global sekarang ini, orang-orang akan mulai lebih melihat track record, real skill, dan portofolio. Dan di duniaku yang sekarang, aku sungguh tidak membutuhkan gelar akademik apapun. Persetan dengan korporasi atau orang-orang yang menilai orang lain dari embel-embel gelar di depan atau di belakang namanya. Sudah cukup bagiku satu gelar, muttaqien, yang insyaAlloh akan kukejar untuk kudapatkan sampai nanti aku mati.

Intinya, aku akan sekolah, jika aku merasa butuh untuk sekolah. Aku dengan senang hati membuang uangku, jika aku merasa sekolah itu lebih menyenangkan, lebih mempercepat pemahamanku akan suatu ilmu, dan lebih mempermudahku.

Tidak sekolah, tetapi bukan berarti saya bodoh.

Salam manis dan cumbu mesra *haiyyah*,

Rukma Pratista, BB., Sb.

Mainstream

Entah sejak kapan, namun kini aku sungguh menjadi benci sekali mendengar alasan-alasan yang semata-mata berlandaskan pada pendapat dan pandangan orang banyak.

“Opo jare wong liyo ngko?”

“Gak enak ah lik disawang wong liyo..”

“Gak enak ah didengar tetangga!”

“Apa kata dunia?”

Persetan. Siapa sih orang lain itu? Sebegitu pentingkah pendapat orang lain itu? Sebegitu berhargakah eksistensi mereka? Kadang mereka sekedar orang lewat, tetangga, orang yang kau temui di angkot, orang yang duduk sebangku denganmu. Persetan, kataku.

Kita adalah bagian dari 7 milyar penduduk dunia, di satu planet yang merupakan bagian dari 8 planet, di satu sistem tata surya yang merupakan bagian dari 100 milyar lebih sistem bintang, di satu galaksi yang merupakan bagian dari 100 milyar lebih galaksi.

We are enormously insignificant!

Jadi haruskah kita tetap menjadi kerdil dengan mengikuti arus, apalagi sekedar pendapat mainstream yang tidak berdasar?

Kucing itu haram dimakan karena Allah menghendakinya, mengenakan pakaian yang indah dan sopan itu baik karena itu menunjukkan penghargaan pada diri sendiri dan Rasulullah mengajarkan demikian, sikat gigi itu baik untuk menghindari gigi berlubang dan nafas tak sedap, dsb dsb. Sungguh, berilah aku alasan yang relevan seperti itu. Bukan alasan-alasan opo jare.

Aku menghargai orang lain, aku bukan orang yang acuh pada pendapat mereka, pikiranku terbuka, aku senang dengan ilmu-ilmu baru, dan aku belajar banyak dari pengalaman orang lain. Namun aku sungguh tak senang dan tak ingin menjadi orang yang nggah-nggih, tidak kritis. Aku skeptis kepada banyak hal, dan aku menentang pendapat yang tidak sesuai dengan prinsip atau studiku. Aku atos, kata si Nduk. Lebih baik aku menjadi minoritas, menjadi kaum marjinal, daripada berpanutan pada alasan-alasan yang dangkal yang tak mampu menggoyahkan pendirianku.

Maka berhentilah mendikteku dengan berlandaskan semata-mata pada pandangan dan pendapat orang lain. Namun berilah aku alasan mengapa pendapat orang lain itu patut kuanut, berilah aku penjelasan mengapa pandangan mereka layak kusandang.

Aku Rukma Pratista, inilah manifesto kemerdekaanku.

Tentang Shaf

Aku gak pernah ngerti, apa sih susahnya untuk saling menempelkan pundak dan kaki, merapatkan shaf ketika sholat berjamaah di masjid. Susah kah?

Di mana-mana selalu saja kutemui orang-orang yang berpikiran bahwa jika sudah menempati satu bidang karpet masjid yang serupa sajadah, yang dikotak-kotak itu, atau menempati sajadahnya sendiri, maka bereslah urusan rapat-merapatkan shaf. Perfect. Tak peduli jarak dengan tetangganya yang masih cukup diisi satu orang lagi.

Ada juga orang-orang yang enggan mengisi ruang kosong ketika aku sudah mencoba bergeser dan memberi ruang yang cukup untuk mereka isi. Tinggal maju saja lho. Begitu saja kok harus menungguku untuk mempersilakannya, lantas mereka baru bersedia maju.

Hei, di sela-sela shaf yang tidak rapat itu akan diisi setan!

Dan aku pernah bilang
, bahwa Yahudi dan Nasrani, dua umat yang menggenggam dunia saat ini, begitu kuat karena mereka begitu solid. Jamaahnya kuat. Sedangkan kita, hanya sekedar merapatkan shof, hal yang remeh begitu saja, tidak becus. Lantas kapan umat kita menjadi umat yang kuat dan solid?

Supply Chain

Seperti halnya ketika memulai bisnis, faktor yang membuat pindahanku ke Malang dari Bandung berasa sedikit rumit dan menyebalkan adalah mencari supply chain baru.

Misalnya saja, ketika aku ingin memproduksi desain kaos baru, di Bandung aku sudah mempunyai tukang sendiri langgananku. Enak, kerjaannya rapi, dan bisa dipercaya. Atau ketika aku musti beli-beli peripheral komputer, gadget, dsb, di Bandung langgananku adalah mall BEC. One-stop shopping di situ. Namun ketika aku kini menetap di Malang, maka aku harus mencari lagi para penjual, produsen, atau pemasok-pemasok barang-barang yang kubutuhkan.

Trial and error lagi. Membangun supply chain baru lagi.

Pagi ini misalnya, aku membutuhkan DVD blank yang cukup banyak dan tentunya murah. Jika di Bandung, langgananku adalah Bourma Setiabudi. Dan kini, entah ke pelosok Malang mana yang harus kutuju.

:)

Yo wis lah, membangun emporium, dinasti, memang takkan bisa dalam waktu semalaman. Tetap semangat ngupoyo upo, Rukma!

Dribbble

Wong-wong ndik Dribbble iku jan as lebay as shit HARE.

“Very nice!”

“Wow, this is so good!”

“I love this so much”

Padahal garapan desaine jan biasa pwol, gak nok mbois-mboise. Typographyne pas-pasan. Gambare biasa ae. Pattern karo motife sederhana. Tapi komentare jan muji-muji sak langit. Cih.

Yo gak kabeh elek, gak kabeh biasa, onok yoan desain sing apik, sing detail, desainer-desainer top biasane. Tapi sing kroco-kroco iku lo, luebay pwol. Njilat bokong cik desaine didelok sisan, trus dipuji-puji sisan.

Circle of jerks.

Wong bule-bule iku durung tau ndelok motif batik opo, durung tau ndelok songket, durung tau ndelok ukiran-ukiran gaweane suku-suku pedalaman ndik Papua karo ndik Bali. Sumpah, lik wis tau ndelok gak katene koyok ngunu.

Eneg aku karo Dribbble.

Kisahku Hari Ini

Ijinkan aku menghela nafas terlebih dahulu.

*sigh*

Jadi begini, kisahku dimulai dari perkara skripshit. Skripsiku membutuhkan aplikasi yang mesti berjalan di platform Windows XP. Tidak bisa tidak. Aku sudah mencoba menginstal di Windows 7, compatibility mode, dan tetap gagal.

Akhirnya aku memutuskan memasang dual operation system, Seven dan XP. Kuinstal XP di sebuah drive kosong di hardisk kedua. Oke, finish, Windows XP jalan. Terdeteksi tanda keanehan: pilihan booting tidak muncul.

Apes pertama: Windows 7 gak jalan! Damn.

Kuutak-atik settingan boot di Windows XP, kusetting boot priority di BIOS, tetap tidak mempan. Windows 7-ku gak bisa dibooting. Akhirnya kuhapus Windows XP, dan masih juga tidak bisa boot Windows 7! Dabuk!

Akhirnya ngobrak-abrik DVD dan nemu installer Windows 7. Kuinstall.

Apes kedua: salah install Windows 7 32-bit!

Apes ketiga: DVD installer Windows 7 64-bit punyaku raib entah ke mana!

Apes keempat: persediaan DVD blank-ku habis! Akhirnya keluar dan beli satu DVD.

Install Nero lantas bakar DVD, aku make Windows 7 dari Ukas yang katanya sudah final release, bukan RTM. Selesai, lalu kuinstall.

Apes kelima: listrik dimatikan, perbaikan karena ada yang korslet di salah satu kamar kost. Teknisi datang untuk membenahi jaringan listrik di dalam loteng. Aku menunggu lumayan lama.

Lantas listrik kembali tersambung.

Apes keenam: Windows 7-nya ternyata versi Enterprise! Bukan Ultimate. Busuk! Salah install lagi! Ukas nggapleki infone.

Apes ketujuh: tadi cuman beli satu DVD, akhirnya balik lagi beli DVD blank.

Akhirnya kuinstall Windows 7 64-bit Ultimate versi RTM. Berhubung takut gagal lagi, akhirnya kuputuskan make Virtual PC, jadi Windows XP-ku berjalan di dalam Windows 7. Percobaan pertamaku. Download dari Microsoft installer Virtual PC, install, dan berhasil. Windows XP bisa jalan. Install aplikasi skripshitku.

Apes kedelapan: crack tidak tersedia! Leren download sik! MasyaAlloh, duso opo aku iki.

Saat aku menulis ini, aku masih dalam proses instalasi aplikasi skripshit.

*sigh*

Duh Gusti, kulo pengen lulus, sampun diparingi keruwetan malih. Punika sampun cekap Gusti, kulo nyuwun gampilipun pendamelan kulo.

Amiin.

EULA

EULA iku jan ngguarai nguelu puokok’e. Suilit.

Lha bayangkan, setiap font foundry punya EULA sendiri-sendiri. Belum perkara lisensi software yang digunakan, beda lagi.

Coba kalo ada satu set lisensi yang bisa dipake semuanya, font pake lisensi untuk font, software pake lisensi software, dsb. Bahkan jadi satu semua kalo bisa. Versi lain Creative Commons ngunu misale. Lak enak a. *ngayal*

Tapi koyok’e kayalanku iki uangel, bahkan gak mungkin. Soalnya setiap perusahaan itu punya tolok ukur masing-masing terhadap produknya. Sedangkan lisensi iku mek piranti legal binding yang menjamin produk-produk mereka gak dicolong sak enak’e udhel. Dan lisensi itu juga termasuk yang memastikan pasokan duit ke corporate-corporate itu lancar (Microsoft misale, sing sugih soko lisensine). Jadi lisensi itu bergandengan erat, bermesra-mesraan dengan business policy, marketing, dsb, yang berbeda-beda antar setiap perusahaan. Sampek taun bekicot ndoweh yo tetep ae kayalanku iki koyok’e angel dilakoni.

Cih.

P.S:
Makane dadi pengacara iku bayarane gedhe. Double cih.