Hari ini aku merasa bersyukur lagi.
Sepele. Gara-gara lontong kari. Tau kan? Lontong kari itu masakan Jawa Barat berupa lontong atau kupat yang diberi kuah dan daging ayam kari yang biasanya dibiarkan dalam potongan besar atau diiris kecil-kecil. Lantas diberi kecap sedikit sama kerupuk kecil-kecil.
Nah, pagi ini aku sarapan itu. Tetapi, berhubung nasi putih sisa masak kemarin masih ada, aku akhirnya beli ayam karinya saja. Plus kuah, tentu saja. Kubungkus terus kubawa pulang.
Bismillah.
Weks. Rasanya jadi aneh. Bukan tidak enak, tetapi nikmatnya berkurang jauh. Wih, hanya berganti dari lontong ke nasi, kok perbedaan rasa begitu jauh ya. Bukan salah nasinya, masih edible kok. Lantas, kok aneh? Ugh, entahlah.
Aku bersyukur karena aku dilahirkan oleh ibu yang jago masak! Bukan hanya kari, sayur nangka muda (tewel) buatan ibuku misalnya, baik dimakan dengan nasi maupun lontong rasanya akan tetap nikmat, walaupun memang ada perbedaan sensasi.
Masakan yang seperti itu disebut sedep (sedap). Untuk orang Jawa, sedep itu sedikit berbeda arti dengan sedap di bahasa Indonesia, dan bukan hanya sekedar enak. Sedep itu masakan dengan perpaduan bumbu yang pas dan kadang tidak dipengaruhi oleh aksesoris-aksesoris makanan yang lain. Core masakannya itu tetap enak meski dimakan dengan atau tanpa nasi, ada atau tak ada sambel, dll.
Seringkali ketika kita makan di warung, kafe, atau resto, masakannya enak, tetapi kadang kita juga merasakan sensasi yang hambar pada masakan itu, ada yang kurang. Nah, masakan yang seperti itu artinya tidak sedep. Kadang hanya dengan racikan bumbu ala kadarnya suatu masakan yang sedep itu bisa terasa sangat nikmat. Memang perbedaan itu sangat tidak kentara, tetapi untuk orang yang doyan keliling cari makan pasti pernah merasakan sensasinya.
Aku tidak menyombongkan ibuku lho. Ayam bumbu Bali yang kadang dikirimkan ibuku dari Malang ke Bandung, yang lantas kupanaskan dan kumakan dengan teman-teman di sini saja masih dipuji top markotop oleh mereka. Bayangkan jika fresh, apa itu namanya bukan jago? Intinya, penilaianku itu cukup obyektif, dan aku hanya bersyukur punya ibu seperti itu, bukan bermaksud sombong.
Sayang, usaha cateringnya tidak diteruskan lagi, sudah sepuh. Tetapi tenang Bu, kepada menantumu nanti akan kuwariskan kitab memasak saktimu (yang sekarang ada padaku). Tenang saja, ilmumu tidak akan moksa. (Haiyyah)
Alhamdulillah kenyang lagi pagi ini. Ayo kerjaaa!
P.S: jadi kangen makku dan masakannya.