Cinta itu
menguatkan,
bukan melemahkan.
Tanggung jawab,
keinginan untuk melindungi,
perasaan untuk mempercayai,
kesendirian dalam keramaian.
Percayalah padaku,
cinta itu menguatkan.
Cinta itu
menguatkan,
bukan melemahkan.
Tanggung jawab,
keinginan untuk melindungi,
perasaan untuk mempercayai,
kesendirian dalam keramaian.
Percayalah padaku,
cinta itu menguatkan.
I miss her so much.
Sabishii desu.
CHIKUSYOOOOOOOU!
Aku ini bunglon.
Munafik kelas wahid.
Dan hidupku hanya pada bentangan warna abu-abu.
Tidak gelap.
Tidak terang.
Tengah yang menyebalkan.
Namun, kamu belum tahu, sayang.
Belum.
Sama sekali belum tahu.
Perihal itu.
Aku bukan pratista. Belum.
Aku belum lurus.
Dan detik ini aku akan mewujudkan asa dalam nama.
Untuk kita.
Nanti.
Masa depan.
Kau telah mengambil sumpahku.
Maka, semoga kau berkenan.
Apakah mencintai itu harus terikat dengan komitmen-komitmen?
Aku sampai pada kondisi itu. Aku tidak bisa mencari kata yang mampu untuk mendefinisikannya.
Ketika aku ditanya, apakah aku mencintai Gusti Allah dan Kanjeng Rasulullah. Aku bisa menjawabnya dengan cepat mantap, aku “cinta”.
Tetapi tunggu dulu, perhatikan, aku memberi tanda petik.
Aku “mencintai” tidak sama dengan aku mencintai. “Cinta” dalam arti aku memuja, aku kagum, aku selalu rindu, aku ingin dekat, aku ingin selalu bercengkerama, aku ingin selalu membaca sholawat, aku bisa menangis nyengguk kangen dalam malam-malam sepiku, aku bergelut dalam romantisme.
Tetapi,
tetapi jika aku ditanya apakah aku menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengikuti sunnah-sunnahnya. Maka, aku hanya bisa menggeleng.
Ini bukan cinta. Aku tahu. Lantas apa?
Ini munafik. Munafikkah, jika aku sungguh-sungguh telah mengikrar hanya Dia yang Maha Tunggal, jika Rasulullah junjunganku? Belum, definisinya belum tepat.
Yang jelas ini salah. Iya, aku sudah tahu. Aku belum bisa memantapkan hati. Aku belum bisa kaffah. Aku tahu ini salah, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus bagaimana?
Kujawab sendiri : mencintai itu harus berkomitmen.
Duh, rasanya terombang-ambing. Bertahun-tahun aku limbung. Berdiri di atas pijakan yang tidak mantap.
Ya Gusti, luruskanlah.
Malam ini aku mempertanyakan kemahaagungan Gusti Allah.
Malam ini aku mempertanyakan kemahaindahan Gusti Allah.
Tidak, aku sama sekali tidak bermaksud kurang ajar.
Aku sama sekali tidak bermaksud tidak tahu diri dengan kemahakerdilanku, kemahatidakindahanku di hadapan-Nya.
Malam ini aku mencari bintang, seperti malam-malam yang biasa kulalui. Terpikir, jika alam semesta yang tercipta begitu indahnya ini, sebegitu besarnya ini, maka Sang Khalik seindah dan sebesar apa?
Aku tak dapat membayangkan. Pun aku tak dapat membayangkan untuk bertemu dengan-Nya kelak. Karena aku tak pantas, sungguh tak pantas, walaupun aku ingin.
Dan tiba-tiba saja mataku berair.
If you really have something disturbing you,
please, rely on me more.
Bukankah aku pernah menawarkan telinga, mata, dan hati itu?
Before I was aware..
you’ve become a large part of my existence..
Anata ga inaito sabishii desu..
Memuja selain-Mu adalah pengkhianatan.
Aku tahu, aku sudah tahu itu.
Tetapi,
aku harus bagaimana?
Perasaan ini, perasaanku ini…
Aku bimbang
Ya Rabb, tolong tunjukkan kami jalan.
Beri kami kemudahan.
Manusia tidak terdiri dari satu.
Semua manusia pasti mempunyai sosok-sosok yang tidak ingin dia perlihatkan kepada orang lain. Multiple Personality Disorder, dalam kamus psikologi, hanyalah kondisi yang berlebihan terhadap konsep itu. Itu menurutku. Disorder seperti itu hanyalah kondisi dimana mental alter-ego memberontak, mengambil alih ruang dan pemikiran dari kepribadian yang kita coba bentuk, dan dia melebihi ambang batas.
Apa ambang batasnya? Ya, lagi-lagi, society, tolok ukurnya selalu masyarakat. Seperti halnya orang gila, kenapa disebut gila? Mereka waras, menurutku, namun mereka mempunyai dunia sendiri, dunia yang sedikit berbeda dari masyarakat pada umumnya, maka mereka disebut gila. Lebih jelasnya begini, jika seorang ayah merasa bahwa dia adalah seorang ayah, berumur 35 tahun kala itu, lantas keesokan harinya jiwanya berkata bahwa dia adalah seorang anak-anak, umur 10 tahun, lantas keesokan harinya lagi adalah seorang wanita, berumur 25 tahun, sementara masyarakat pada umumnya tidak seperti itu, maka ayah itu mempunyai MPD. Sederhana.
Lantas, apakah ada dari kita yang tidak mempunyai kepribadian ganda, alter-ego? Kepribadian yang kita coba untuk tutupi? Sosok-sosok yang ingin kita tinggalkan dalam gelap, kita rahasiakan? Jika ada, aku meragukannya sebagai manusia. Mungkin dia nabi, namun aku yakin tidak ada lagi nabi, bahkan nabi pun kuyakin mempunyai kepribadian lain, maka dia bukan manusia.
P.S:
Sakjane aku nulis iki ngawur, sumpek, ngelu. Tanpa dasar ilmu, hanya persepsi. Ditulis, karena sosokku yang benar-benar ingin kupendam semakin mengerang untuk muncul ke permukaan.
WOI! AKU BUKAN HOMO! BUKAN ITU! NDUK, AKU MASIH DOYAN KAMU! <- tak dhisik’i sakdurunge ada yang ngasi komen kaya gitu.
Bukankah kalian bintang gemintang
tercipta sebagai teman kelam sukma malam?
Bukankah gugusan kerlipmu adalah sinar basuh perih
jelmaan kedip binar netra kekasih?
Apakah tuntas tugasmu wahai punakawan,
yang bukan empat namun milyaran
pungggawa-punggawa, abdi-abdi, penghibur-penghibur
kerajaan-kerajaan padang hati rindu?
Karena aku masih di sini, termangu kelu beku
memandang semburat langit nila tua
dan tak jua jumpaimu
dalam kedalaman malam-malamku