Lebaran dan pulang kampung tempo hari merupakan ajang pelatihan get social untukku.
Untuk hal yang satu itu, tidak berlebihan jika kusebut sebagai salah satu momok dari Rukma Wira Pratista. I’m not talkative. I prefer computers to humans. Put me between a bunch of strangers and I’d love to take the corner of the room to watch them talk to each other. Untuk sekian lama aku mencoba mempraktekkan ‘silent is gold‘, ‘confrontation is bad‘, dan ‘berbicaralah hal yang bermanfaat, atau diam‘. I’m that kind of guy.
Maka saat pulang kampung tempo hari, aku mencoba berubah.
Aku datang di acara buka bersama dengan teman-teman angkatan satu SMA. Di sana aku ngobrol ngalor ngidul, aku jadi imam sholat jamaah, dan jadi tukang potret. Si Nduk saja sampai heran, katanya bukan seperti aku yang biasanya. But she loves it. And I couldn’t help but felt glad that I took the initiative.
Dan entah dia ingin mengujiku lebih lanjut atau memang hanya sekedar ingin memperkenalkanku pada sanak saudaranya, beberapa hari kemudian aku diajak ke rumah keluarga ayahnya, om-tante, pakdhe-budhe, total strangers.
Wow. That was my giant leap. A scary one.
Benar adanya. Semua orang berbicara tentang hal-hal yang menarik untuk orang seumuran mereka, namun tidak untuk orang seumuranku. Jokes garing di sana-sini. Aku ingin nyeletuk, namun tidak ada celah. Dan ketika aku mempunyai kesempatan untuk berbicara, well, lagi-lagi soal pernikahan, kuliah, kerjaan, dan humiliation (exaggerating, a bit). Maka aku diam, diam, dan diam. Aku memperhatikan.
Dan saat itu aku tersadarkan akan perkara klasik, bahwa komunikasi adalah salah satu bentuk pengekangan ego. Selama aku berpikir orang-orang itu berbicara tentang hal yang tidak menarik, which is my ego, maka aku akan selamanya terkucil. And it is totally up to me. Bahwa aku harus sedikit menjadi lebih tua untuk bisa nimbrung dalam obrolan orang-orang itu, atau tetap berpikir bahwa obrolan itu tidak menarik dan tetap diam, adalah pilihanku. Bahwa aku harus terlibat dalam obrolan nan gak penting atau tetap diam, is totally up to me.
Somehow, to connect means to let loose, to stop being so egoist. It needs courage to do so.
Resep sederhana, klasik, tetapi masih saja susah untuk kupraktekkan.
And here I am thinking that I also don’t want to lose that cool part of myself. *grin*