Jembar

Wong Islam kuwi yo, kudu jembar sembarange. Jembar atine. Jembar wawasane. Jembar donyane. Jembar pangapurane. Jembar sabare. Jembar jembar jeeeeeembaaar.

Ora oleh sithik-sithik ngamuk. Wong dodolan, spamming ning Facebook ae kok diseneni. Lha timbang ngrampok hayo? Lik ora keno dituturi yo ben wis.

Tak jembarno atiku dewe ah, wingi tipe 21 saiki tipe 36, saiki tipe 36 mbesuk tipe 45, trus tipe 54, trus 100, 100 ewu, 1 milyar. Lhe? Gehehehe.

*mengong, ngomong nang awakku dewe*

Koneksi

Bisnis iku jane mung perkara telu iki lho:

1. Ide
2. Implementasi
3. Koneksi

Wis iku thok.

Trus lalapo se kok digawe angel-angel nemen? Dipikir sampe ngelu, sing ditemu malah keruwetan-keruwetan, ujung-ujunge mung jalan di tempat. Wis talah mlakuo sik, lik wis trus mlayu, lik wis isok mlayu baru mabur. Masalah ngko bakalan ceblok koyok pesawat Merpati, yo ngko wae, dipikir lik wis arep utowo bar ceblok! ;D

Ayok mlaku!

Lebaran dan Kumpul-Kumpul

Lebaran dan pulang kampung tempo hari merupakan ajang pelatihan get social untukku.

Untuk hal yang satu itu, tidak berlebihan jika kusebut sebagai salah satu momok dari Rukma Wira Pratista. I’m not talkative. I prefer computers to humans. Put me between a bunch of strangers and I’d love to take the corner of the room to watch them talk to each other. Untuk sekian lama aku mencoba mempraktekkan ‘silent is gold‘, ‘confrontation is bad‘, dan ‘berbicaralah hal yang bermanfaat, atau diam‘. I’m that kind of guy.

Maka saat pulang kampung tempo hari, aku mencoba berubah.

Aku datang di acara buka bersama dengan teman-teman angkatan satu SMA. Di sana aku ngobrol ngalor ngidul, aku jadi imam sholat jamaah, dan jadi tukang potret. Si Nduk saja sampai heran, katanya bukan seperti aku yang biasanya. But she loves it. And I couldn’t help but felt glad that I took the initiative.

Dan entah dia ingin mengujiku lebih lanjut atau memang hanya sekedar ingin memperkenalkanku pada sanak saudaranya, beberapa hari kemudian aku diajak ke rumah keluarga ayahnya, om-tante, pakdhe-budhe, total strangers.

Wow. That was my giant leap. A scary one.

Benar adanya. Semua orang berbicara tentang hal-hal yang menarik untuk orang seumuran mereka, namun tidak untuk orang seumuranku. Jokes garing di sana-sini. Aku ingin nyeletuk, namun tidak ada celah. Dan ketika aku mempunyai kesempatan untuk berbicara, well, lagi-lagi soal pernikahan, kuliah, kerjaan, dan humiliation (exaggerating, a bit). Maka aku diam, diam, dan diam. Aku memperhatikan.

Dan saat itu aku tersadarkan akan perkara klasik, bahwa komunikasi adalah salah satu bentuk pengekangan ego. Selama aku berpikir orang-orang itu berbicara tentang hal yang tidak menarik, which is my ego, maka aku akan selamanya terkucil. And it is totally up to me. Bahwa aku harus sedikit menjadi lebih tua untuk bisa nimbrung dalam obrolan orang-orang itu, atau tetap berpikir bahwa obrolan itu tidak menarik dan tetap diam, adalah pilihanku. Bahwa aku harus terlibat dalam obrolan nan gak penting atau tetap diam, is totally up to me.

Somehow, to connect means to let loose, to stop being so egoist. It needs courage to do so.

Resep sederhana, klasik, tetapi masih saja susah untuk kupraktekkan.

And here I am thinking that I also don’t want to lose that cool part of myself. *grin*

Persepsi

Tadi pagi akhirnya ngumpulin PR Fisika Kuantum. Jan gak mbuois blas kerjaanku. Dari 5 soal, cuma bisa 2 soal. Ngwelu. Tapi, ternyata kalo dilihat dari persepsi lain, aku gak sebegitu jeleknya. Hampir satu kelas cuma bisa ngerjain 2-3 soal. Cuma segelintir yang bisa ngerjain semuanya. Hehehe, ternyata aku yo gak goblik-goblik banget. Dengan bekal koneksi (bilang aja nyontek!), akhirnya toh bisa kuselesaikan semuanya, 5 soal.

Ya begitulah. Persepsi. Sekarang pertanyaannya, kamu ingin memandang hidupmu seperti gelas setengah kosong, atau gelas setengah penuh?

Geje

Seringkali, berkutat dengan archive Facebook, membuatku merasa dungu. Kadang aku bener-bener gak ngerti apa yang kupikirkan sebelum ngasih komen, posting status, dsb, di masa lalu. Sukur njeplak.

Tagline foto si nduk di Facebook-ku misalnya:

Hey Gajah Mada, duluan mana Hayam Wuruk atau ayam?

Apaaaa maksudnya coba?!  Aku tadi loading lumayan lama karena lupa.  Mari direka ulang.

Dari pertanyaannya, jelas aku ngambil ide dari paradoks ayam dan telur. Kemudian Hayam Wuruk kubandingkan dengan ayam. Permainan kata-kata geje, Hayam terdengar seperti ayam. Ditambah dengan situasi foto yang seolah ada dialog antara si nduk dan patung Gajah Mada maka jadilah tagline geje itu.

Ya Allah, selera humor yang aneh!   Gwaring HARE!  Aku mikir apa ya waktu itu?!  Weiiiiird.

Ah geje. Seperti halnya tulisan ini. Geje.

BBBAAAD Customer Service

Akhir-akhir ini aku sering banget protes dan korespondensi via email dengan beberapa perusahaan yang produk-produknya kupakai. Mulai dari yang bikin web, gadget, nyediain jasa transportasi, e-banking, transfer uang, dan segala macem lainnya. Kebanyakan sih komplain, tapi ada juga yang cuma nanya karena aku males googling dan nyari solusi sendiri.

Dan rata-rata, perusahaan-perusahaan dalam negeri itu bener-bener Cap Coro! Lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget nunggu respon dari mereka. Beda banget dengan pelayanan dari perusahaan luar negeri. Dalam jangka waktu gak lebih dari 2 business days, mereka udah ngasih balesan dan solusi. Sedangkan perusahaan yang Cap Coro itu, udah ngasih reply-nya lama, jawabannya gak memuaskan lagi, main ping-pong. CUIH! Perusahaan gedhe lho, masih mending kalo level UKM.

Masa’ kalah sama perusahaan kelas menengah? Kapan itu aku berurusan dengan perusahaan transportasi, pengen minta price list dan nanya kemungkinan untuk kerja sama (minta diskon maksudnya), mereka lho ngasih responnya cepet banget. Besoknya sudah dibales.

Seharusnya untuk korporasi yang gedhe, perusahaan multinasional, duitnya banyak, customer service-nya juga harus yahud lah.

Payah!

P.S: Aku udah komplain ke WordPress untuk benerin theme Prologue (kapan itu kan rada buggy sistem komennya). Solusinya rada aneh, disuruh ganti bahasa ke bahasa Indonesia. Rada gak nyambung, kan error-nya di sistem komentarnya. Well, tak apalah, aku balik pake theme ini.

Pratista

Aku ini bunglon.
Munafik kelas wahid.
Dan hidupku hanya pada bentangan warna abu-abu.
Tidak gelap.
Tidak terang.
Tengah yang menyebalkan.

Namun, kamu belum tahu, sayang.
Belum.
Sama sekali belum tahu.
Perihal itu.

Aku bukan pratista. Belum.
Aku belum lurus.
Dan detik ini aku akan mewujudkan asa dalam nama.
Untuk kita.
Nanti.
Masa depan.

Kau telah mengambil sumpahku.
Maka, semoga kau berkenan.

Adulthood

Mereka, anak-anak dan remaja, akan mencari pelarian, akan selalu mendongak, kepada kedewasaan. Sedangkan orang-orang tua dan dewasa, akan mencari pelarian dan perbandingan dari masa lalu. Namun, ada juga mereka yang selalu hidup pada masa kini, present tense, tanpa melupakan dan mencari jalan-jalan, memasuki masa depannya.

Kamu, suka yang mana?