Sherlock Holmes itu ternyata cukup mempengaruhi karakter dan tabiatku, setelah kupikir-pikir.
Aku berkenalan dengan Sherlock ketika masih SMP. Aku mengoleksi buku-bukunya, tergila-gila pengen jadi detektif, hingga pernah berencana untuk ikut lomba mencari harta karun bersama Andi dan Hadziq temanku satu SMP demi memuaskan hasrat untuk memecahkan puzzle dan sandi-sandi. Namun batal gara-gara sakit yang sampai sekarang kusesali.
Ada 3 perkara yang kupikir Sherlock cukup memberi pengaruh dominan.
Satu, perkara digesting.
Ho’oh, soal digesting. Sepele. Dari dulu jaman SMP sampe sekarang, aku dan Sherlock itu selalu beranggapan bahwa digesting really slows us down. Aku doyan makan, tapi tidak saat aku kerja atau ketika aku membutuhkan otakku bekerja maksimal. Dengan mengutip Sherlock, aku cukup sering membantah ibu ketika diminta untuk sarapan sebelum sekolah atau kuliah. Sampe sekarang. Darah akan mengalir lebih banyak ke perut ketimbang ke otak, bikin ngantuk, kataku, dan sebagainya dan sebagainya, alasan-alasan yang membuatku kena maag.
Perkara digesting ini benar-benar terasa waktu puasa seperti sekarang ini. Lha wong saban hari biasanya aku bangun jam 2-3 pagi ya normal-normal saja kok, eh sekarang mesti jadi ngantuk sehabis sahur. This digesting concept really works for me.
Dua, tentang sandi, puzzle, dan kode-kode.
I love puzzle. Ket biyen. Aku seneng game-game adventure ala Monkey Island, mecahno sandi rumput dan garis waktu masih aktif di Pramuka, aku seneng mainan semaphore antar genteng rumah dengan Bowie, teman SMP yang kostnya dulu masih satu kampung denganku, aku juga selalu tertantang untuk memecahkan kode dan sandi gak jelas yang kubaca di buku atau waktu main game, dan aku juga punya banyak koleksi sandi aneh yang kuciptakan sendiri. I’m not genius, aku gak selalu bertahan hingga akhir dan berhasil memecahkan sandi. Sebagai seorang nerd sejati (melok-melok Hafiz omongane), aku hanya merasa berkewajiban untuk memporak-porandakan sandi-sandi itu.
Tapi, weird but true, aku gak doyan programming. Jika sandi-sandi dipecahkan dengan harapan untuk mendapatkan treasure atau suatu pesan yang unik, tapi kalo programming itu piye yo, programming iku mek upaya komunikasi antara manusia karo mesin. Programming iku lebih ke language. Piye yo, lebih common. Public. Menyusahkan diri hanya untuk berkomunikasi dengan mesin, aku gak doyan. I let the rest of the world do that.
Tiga, soal kebiasaanku menyelami karakter wong liyo.
Kalo Sherlock terkenal dengan science of deduction-nya, mengamati detail dari segala hal yang tampak lantas menyimpulkan dengan akurat suatu kondisi atau kejadian yang berkaitan dengan detail-detail itu, well, aku gak seperti itu. La wong aku gak punya photographic memory sing mak crot koyok ngunu. Kalo aku, deduction-ku sedikit beda, aku seneng mendalami karakter orang lain dari hal-hal yang tampak, gaya ngomongnya, kebiasannya, dan lain-lain untuk lantas menduga-duga karakter dan sifat mereka, kebiasaan dan pola hidupnya sehari-hari dari hal-hal tadi.
Kadang aku juga seneng ngetest dikit, untuk menguatkan persepsiku. Tapi wonge gak kroso mesti. Hehe. Meh kabeh konco cedhakku tau tak test. Perkara sepele-sepele, tapi hasilnya lumayan akurat, hingga bisa kugunakan untuk mendekatkan diri kepada mereka. Yeah, I’m sorry my friends, koncomu iki jan mbunglon, I even ran some tests on you, tapi lak gak kroso see? Kekekekekek. Owh aku pernah membahas sedikit soal kebiasaanku ini di posting lama tentang awal naksir si nduk.
Yah begitulah, Sherlock Holmes and me, we have something in common. Jadi kepikiran Sherlock gara-gara nonton serial dari BBC adaptasi Sherlock Holmes-nya Doyle, tapi hidup di jaman modern era internet. Tadinya aku pengen cerita soal MacGyver juga, tapi males ah, iki ae wis dowo tiba’e. :p