Boh

Tiba-tiba, di sela aku mendesain undangan nikahanku, aku kesambet ide untuk ngasi nama anak. Untuk anak cowok. :D

Boh Abdillah Rahmaputra

Boh dalam bahasa Myanmar berarti pemimpin, kekuatan. Jadi nama itu bisa berarti pemimpin yang kuat, hamba Allah yang dikaruniai rahmat dan imam bagi orang-orang yang shalih.

Apik tho? Gehehehe. Panggilannya Boh, masiyo di Urban Dictionary artinya rada geje, tapi sounds unique. Berarti ini sedikit meratifikasi keinginanku untuk menamai anak-anakku dalam bahasa Jawa. Hehehe.

Gara-gara baca tulisannya Goenawan Muhammad, Boh.

Haiyyah, nikah aja belum. :p

Harga Teman

Orang Indonesia itu seringkali menyalahgunakan hubungan pertemanan. Yang sering terjadi padaku dan bisnisku adalah penerapan ‘harga teman’ atau ‘rego konco’. Lucu, karena mentang-mentang dia temanku lantas meminta bayaranku lebih dimurahkan sedikit, atau bahkan gratis.

Jika dari sudut pandangku, jika aku memberi ‘harga teman’ itu adalah sikap yang wajar. Karena dari sudut pandangku aku memberi, aku si empunya gawe dan bisnis. Itungannya aku sedekah. Tetapi jika dari sudut pandang si teman ini, ‘harga teman’ ini berarti dia meminta. Sedangkan dawuhe Rasulullah, tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Jadi dari satu hal ini saja, ‘harga teman’ itu suatu konsep yang aneh ditinjau dari sudut pandang si ‘teman’ atau si pembeli.

Yang kedua, si teman ini mungkin merasa berjasa terhadap si penjual pada masa lampau. Entah saat sekolah bersama sering mentraktir di kantin, atau memberi utang untuk bayar kuliah, atau apapun lainnya. Jadi, jika si teman ini menambahkan embel-embel teman pada hubungan bisnis, berarti dia tidak ikhlas dengan hubungan pertemanan tersebut dan segala lika-liku di dalamnya di masa lampau. Nah, hati-hati lho, tidak ikhlas dan riya’ itu bisa menghapus nilai amal!

Yang lebih aneh lagi, si pembeli ini menganggap kita adalah temannya, intinya orang yang lebih spesial. Namun dia meminta harga yang lebih rendah (bahkan gratis). Bukankah seharusnya sebagai teman dan pembeli justru dia melebihkan pembayaran, bukan sebaliknya?

Kesimpulannya, sebagai penjual, jika memang mampu memberikan ‘harga teman’ ya diberi sedikitlah. Itung-itung bersedekah dan menghormati hubungan pertemanan. Namun, sebagai pembeli, tidak perlu meminta ‘harga teman’ dalam arti mengurangi pendapatan si penjual, bahkan jika mampu lebih baik melebihkan pembayaran untuk menghormati teman sekaligus penjual tersebut. Ada flowchart lucu dari Jessica Hische tentang ‘harga teman’ ini di http://shouldiworkforfree.com.

Ingatkan aku dengan tulisanku ini jika aku sebagai pembeli di kemudian hari meminta ‘harga teman’ kepada penjual, atau kepadamu. Dadi wong Islam iku kudu profesional.

Nggamblik bin Nglamis, part 2

I need better copywriting for everything mine. Mulai dari web porto, info di FB dan Twitter, di situs-situs freelance, resume, cover letter, blog, semuanya.

As always, aku selalu demen gaya nggamblik dan nglamisnya si Hafiz. He is great in terms of selling himself. Vio temanku juga pinter nggamblik, tapi lebih ke arah poetic. Aku selalu iri dengan mereka, dengan orang-orang yang mampu untuk mengekspresikan apa yang ada di benak mereka melalui kata-kata yang tersusun asik dan unik.

Skil komunikasiku kurang, dan aku sudah menyadari hal ini sejak dulu. Nglamis itu jika diterjemahkan akan bermakna kryptonite untukku. Namun, seperti Rukma yang biasanya, tak ada istilah patah arang dalam kamus. I’ll face it!

So theme of this week is: nglamis! Nglamis uber alles!

Undur-Undur

(11:57:56 AM) Hafiz Rahman: lucu kewan iki tiba’e http://en.wikipedia.org/wiki/Antlion
(11:58:40 AM) RukmaPratista: hooo undur2?
(11:58:45 AM) RukmaPratista: opo’o lucune lik?
(11:59:17 AM) Hafiz Rahman: kewan sing nggae lubang ndek tanah gae njebak semut
(11:59:24 AM) Hafiz Rahman: koyok sarlacc (?) ndek star wars
(11:59:38 AM) Hafiz Rahman: tiba’e iku mek larvane tok.. tuek e dadi gantrung =)) geje
(11:59:48 AM) RukmaPratista: sarlacc iku sing monster pasir iku yo
(12:00:02 PM) RukmaPratista: wek ik, sekecil iku dadi gantrung gedi? mbois yo
(12:00:14 PM) Hafiz Rahman: lah koyo’e pas larva luwih lemu ngunu ndek fotone =))
(12:00:17 PM) Hafiz Rahman: tuek e ramping
(12:00:36 PM) Hafiz Rahman: aku iling soale ndek final fantasy 9 onok boss sing jenenge antlion pisan ehehe
(12:00:54 PM) RukmaPratista: lo iku gak undur2 a? bedo?
(12:01:02 PM) RukmaPratista: undur2 lak cilik
(12:01:05 PM) Hafiz Rahman: aku ora eruh undur2 iku opo, hehe
(12:01:12 PM) RukmaPratista: DHAR
(12:01:16 PM) RukmaPratista: tak kiro eruh
(12:01:34 PM) RukmaPratista: yo jenenge undur2, senengane nggawe bolongan ngunu, cilik sak semut gede sithik
(12:01:51 PM) RukmaPratista: tapi mangan semut yo, haruse luwih gedi adoh berarti
(12:02:44 PM) RukmaPratista: http://id.wikipedia.org/wiki/Undur-undur
(12:02:46 PM) RukmaPratista: onok =))
(12:02:53 PM) RukmaPratista: iyo podo koyok’e
(12:03:40 PM) RukmaPratista: dadi capung tah tiba’e, kaet ngerti aku
(12:04:25 PM) RukmaPratista: swangar yo wong jowo iku, lengkap lik pekoro jeneng2an, kathik sak enak udhel lik njenengi
(12:04:37 PM) RukmaPratista: kembang telek’an, opooooo lak ngunu
(12:05:02 PM) Hafiz Rahman: LOL! iyo i
(12:05:05 PM) Hafiz Rahman: antlion == undur2
(12:05:06 PM) Hafiz Rahman: hahahahahaaa
(12:05:25 PM) RukmaPratista: =))

Jadi teringat posting tentang Astral Projection. Ilate wong Jowo iku ancen sak enak udhel.

EULA

EULA iku jan ngguarai nguelu puokok’e. Suilit.

Lha bayangkan, setiap font foundry punya EULA sendiri-sendiri. Belum perkara lisensi software yang digunakan, beda lagi.

Coba kalo ada satu set lisensi yang bisa dipake semuanya, font pake lisensi untuk font, software pake lisensi software, dsb. Bahkan jadi satu semua kalo bisa. Versi lain Creative Commons ngunu misale. Lak enak a. *ngayal*

Tapi koyok’e kayalanku iki uangel, bahkan gak mungkin. Soalnya setiap perusahaan itu punya tolok ukur masing-masing terhadap produknya. Sedangkan lisensi iku mek piranti legal binding yang menjamin produk-produk mereka gak dicolong sak enak’e udhel. Dan lisensi itu juga termasuk yang memastikan pasokan duit ke corporate-corporate itu lancar (Microsoft misale, sing sugih soko lisensine). Jadi lisensi itu bergandengan erat, bermesra-mesraan dengan business policy, marketing, dsb, yang berbeda-beda antar setiap perusahaan. Sampek taun bekicot ndoweh yo tetep ae kayalanku iki koyok’e angel dilakoni.

Cih.

P.S:
Makane dadi pengacara iku bayarane gedhe. Double cih.

Sherlock

Sherlock Holmes itu ternyata cukup mempengaruhi karakter dan tabiatku, setelah kupikir-pikir.

Aku berkenalan dengan Sherlock ketika masih SMP. Aku mengoleksi buku-bukunya, tergila-gila pengen jadi detektif, hingga pernah berencana untuk ikut lomba mencari harta karun bersama Andi dan Hadziq temanku satu SMP demi memuaskan hasrat untuk memecahkan puzzle dan sandi-sandi. Namun batal gara-gara sakit yang sampai sekarang kusesali.

Ada 3 perkara yang kupikir Sherlock cukup memberi pengaruh dominan.

Satu, perkara digesting.

Ho’oh, soal digesting. Sepele. Dari dulu jaman SMP sampe sekarang, aku dan Sherlock itu selalu beranggapan bahwa digesting really slows us down. Aku doyan makan, tapi tidak saat aku kerja atau ketika aku membutuhkan otakku bekerja maksimal. Dengan mengutip Sherlock, aku cukup sering membantah ibu ketika diminta untuk sarapan sebelum sekolah atau kuliah. Sampe sekarang. Darah akan mengalir lebih banyak ke perut ketimbang ke otak, bikin ngantuk, kataku, dan sebagainya dan sebagainya, alasan-alasan yang membuatku kena maag.

Perkara digesting ini benar-benar terasa waktu puasa seperti sekarang ini. Lha wong saban hari biasanya aku bangun jam 2-3 pagi ya normal-normal saja kok, eh sekarang mesti jadi ngantuk sehabis sahur. This digesting concept really works for me.

Dua, tentang sandi, puzzle, dan kode-kode.

I love puzzle. Ket biyen. Aku seneng game-game adventure ala Monkey Island, mecahno sandi rumput dan garis waktu masih aktif di Pramuka, aku seneng mainan semaphore antar genteng rumah dengan Bowie, teman SMP yang kostnya dulu masih satu kampung denganku, aku juga selalu tertantang untuk memecahkan kode dan sandi gak jelas yang kubaca di buku atau waktu main game, dan aku juga punya banyak koleksi sandi aneh yang kuciptakan sendiri. I’m not genius, aku gak selalu bertahan hingga akhir dan berhasil memecahkan sandi. Sebagai seorang nerd sejati (melok-melok Hafiz omongane), aku hanya merasa berkewajiban untuk memporak-porandakan sandi-sandi itu.

Tapi, weird but true, aku gak doyan programming. Jika sandi-sandi dipecahkan dengan harapan untuk mendapatkan treasure atau suatu pesan yang unik, tapi kalo programming itu piye yo, programming iku mek upaya komunikasi antara manusia karo mesin. Programming iku lebih ke language. Piye yo, lebih common. Public. Menyusahkan diri hanya untuk berkomunikasi dengan mesin, aku gak doyan. I let the rest of the world do that.

Tiga, soal kebiasaanku menyelami karakter wong liyo.

Kalo Sherlock terkenal dengan science of deduction-nya, mengamati detail dari segala hal yang tampak lantas menyimpulkan dengan akurat suatu kondisi atau kejadian yang berkaitan dengan detail-detail itu, well, aku gak seperti itu. La wong aku gak punya photographic memory sing mak crot koyok ngunu. Kalo aku, deduction-ku sedikit beda, aku seneng mendalami karakter orang lain dari hal-hal yang tampak, gaya ngomongnya, kebiasannya, dan lain-lain untuk lantas menduga-duga karakter dan sifat mereka, kebiasaan dan pola hidupnya sehari-hari dari hal-hal tadi.

Kadang aku juga seneng ngetest dikit, untuk menguatkan persepsiku. Tapi wonge gak kroso mesti. Hehe. Meh kabeh konco cedhakku tau tak test. Perkara sepele-sepele, tapi hasilnya lumayan akurat, hingga bisa kugunakan untuk mendekatkan diri kepada mereka. Yeah, I’m sorry my friends, koncomu iki jan mbunglon, I even ran some tests on you, tapi lak gak kroso see? Kekekekekek. Owh aku pernah membahas sedikit soal kebiasaanku ini di posting lama tentang awal naksir si nduk.

Yah begitulah, Sherlock Holmes and me, we have something in common. Jadi kepikiran Sherlock gara-gara nonton serial dari BBC adaptasi Sherlock Holmes-nya Doyle, tapi hidup di jaman modern era internet. Tadinya aku pengen cerita soal MacGyver juga, tapi males ah, iki ae wis dowo tiba’e. :p

Typography

Hambu, aku kecanduan segala hal yang berkaitan dengan typography. Mulai kapan hari leles dan baca buku-buku tentang kerning, specimen, family, free font, lisensi, dll. Ketagihan HARE.

Mulai retro, blackletter, sans serif, script, tak pentelengi siji-siji. Lantas mulai kemarin aku mengatur, mengategorikan font-font sesuai tipenya. Linotype Fontexplorer X gak metu-metu nang Windos sisan. Mbencekno.

Masa nambah lagi OCD-ku? Typography nerd? Setiap melihat logo, kemasan produk, bungkus makanan, poster, gambar, kartu nama, selalu kucermati baik-baik typographynya. Kadang kutiru, kadang kuberi sumpah serapah. Pun jika ada klien yang minta font stencil untuk dijadikan logo restoran, tak omel-omel pindho.

Hambu. OCD.