Membaca posting tentang darkroom, tiba-tiba bikin aku inget dengan darkroom sederhana di kamar kakakku (sekarang jadi kamarku) dulu.
Alih-alih nyuci dan nyetak foto, well, aku malah mainan dengan kertas grafir dan kertas photo. Iseng. Kugambar Goku, karakter di Dragon Ball, di kertas grafir itu, trus kusorot dengan lampu senter ke arah kertas foto. Lantas kertas fotonya kucelup bentar ke larutan kimia, dan jadilah gambar sketchku di kertas foto, putih di atas hitam.
I really am proud of it. Lebih tepatnya takjub. Dan akhirnya hasilnya kupamerkan ke saudara-saudaraku lainnya.
Terus terang, kalo kupikir-pikir, rasa-rasanya rata-rata anak-anak di Indonesia tidak diperkenalkan kepada sains sejak dini. Termasuk aku. Orang tuaku memang mengajarkan tentang moral dan etika, tetapi untuk ilmu-ilmu eksakta kurasa jarang sekali. Tak ada workshop di rumah dan jarang sekali pendampingan untuk melakukan eksperimen-eksperimen sederhana.
Kalo dibandingkan dengan bule-bule, wah, beda jauh. Einstein aja bisa kayak gitu padahal nggak sekolah formil lho! Trus pernah suatu kali baca blog tentang fotografer yang ngajarin anaknya bikin kamera lubang jarum. Bukan hanya si anak yang antusias, orang tuanya juga.
Harusnya seperti itu. Seperti tagline iklan Rinso, “berani kotor itu baik” Aku pengen jadi orang tua yang seperti itu, yang ngajarin anaknya berpikir analitis dari kecil.