What are the reasons that make LDR really sucks?
Untukku, jawabannya bukan semata-mata karena kita berjauh-jauhan, lantas hasrat tak tersalurkan, kerinduan yang tak tertahankan, atau haus akan belaian (haiyyah).
Tetapi ekspektasi. Pengharapan-pengharapan. Imajinasi. Itu yang membuat hubungan jarak jauh itu menjadi ’sedikit’ menyeramkan.
Maksudku begini, dua orang, yang menjalani LDR, akan dihadapkan kenyataan bahwa mereka akan tumbuh dan berkembang saling terpisah, berjauhan. Jangan harap keduanya tidak akan berubah. Pasti akan ada perubahan meskipun toh keduanya masih saling suka. Nah, masing-masing akan berubah tanpa ada atau dengan sedikit sekali pengawasan atau ‘kontrol’ satu sama lain. Akhirnya timbul ekspektasi-ekspektasi, si A membayangkan si B ceweknya seperti dalam imajinasinya, si B pun mengharapkan si A menjadi cowok seperti idamannya, si A mengharap si B tak pernah selingkuh, si B mengharap si A sudah siap lahir batin untuk kawin ketika mereka ketemu, dll.
Ketika akhirnya mereka ketemu dan bisa hidup bersama, what a surprise, kenyataan berkata lain. Ekspektasi-ekspektasi itu tidak terpenuhi. Apalagi ketika menjalani LDR semakin lama, maka ekspektasi itu akan semakin menumpuk. Bayangkan jika semua ekspektasi-ekspektasi itu tidak terpenuhi dalam diri masing-masing. Sereeem.
Untungnya, aku bukan orang yang terlalu banyak berharap. I love her just the way she is. Cukup bagiku asal dia masih menganggapku her man dan tidak berpindah ke lain hati (aku percaya dia). Namun, entah bagaimana dengannya, yang jelas aku tak bisa membuat agar dia berlaku sama untuk tidak terlalu mengharap yang muluk-muluk. Yah, semoga saja aku tidak mengecewakan segala ekspektasinya nanti.
Aku harus memperbanyak komunikasi, aku harus menempa diri, itu saja.