Passionate Learning

This is a not-so-short guidance for anyone who will take SNMPTN.

Ketahuilah, tidak ada jaminan bahwa kuliah di perguruan tinggi akan memberimu ilmu yang bermanfaat, atau menunjukkan kepadamu akan seperti apa penghidupan dan kehidupanmu di masa yang akan datang.

But, insya Alloh, you are most likely to suceed in your campus life or in your future if you have a bit more passion in your learning.

Jadi, alih-alih engkau ingin menjadi siapa, ask yourself, kamu suka apa. Tidak perlu berkaca pada orang lain, pun tidak usah peduli mereka telah menjadi siapa dan bagaimana penghidupan mereka.

Let me tell you my own story.

Fight!

Nobody tells this to people who are beginners, I wish someone told me. All of us who do creative work, we get into it because we have good taste. But there is this gap. For the first couple years you make stuff, it’s just not that good. It’s trying to be good, it has potential, but it’s not. But your taste, the thing that got you into the game, is still killer. And your taste is why your work disappoints you. A lot of people never get past this phase, they quit. Most people I know who do interesting, creative work went through years of this. … And if you are just starting out or you are still in this phase, you gotta know its normal and the most important thing you can do is do a lot of work. … You’ve just gotta fight your way through.

— Ira Glass

Change

Lucu.

Karena dari dulu, setiap kali aku berpikir bahwa aku harus berubah, aku tidak tahu entah harus bagaimana, harus mulai dari mana.

I have to change, I know why, but I don’t know how!

Kalaupun aku sudah bisa sedikit demi sedikit memulai hal yang baru, yang lebih baik, di luar kebiasaan atau karakterku selama ini, perubahan itupun takkan lama. Seperti ada kekuatan yang besar, yang berulang-ulang menjerumuskan kembali ke lubang kelam yang sama.

I’m a coward. Thinking about that makes me kinda sad.

Koneksi

Bisnis iku jane mung perkara telu iki lho:

1. Ide
2. Implementasi
3. Koneksi

Wis iku thok.

Trus lalapo se kok digawe angel-angel nemen? Dipikir sampe ngelu, sing ditemu malah keruwetan-keruwetan, ujung-ujunge mung jalan di tempat. Wis talah mlakuo sik, lik wis trus mlayu, lik wis isok mlayu baru mabur. Masalah ngko bakalan ceblok koyok pesawat Merpati, yo ngko wae, dipikir lik wis arep utowo bar ceblok! ;D

Ayok mlaku!

Tentang Shaf

Aku gak pernah ngerti, apa sih susahnya untuk saling menempelkan pundak dan kaki, merapatkan shaf ketika sholat berjamaah di masjid. Susah kah?

Di mana-mana selalu saja kutemui orang-orang yang berpikiran bahwa jika sudah menempati satu bidang karpet masjid yang serupa sajadah, yang dikotak-kotak itu, atau menempati sajadahnya sendiri, maka bereslah urusan rapat-merapatkan shaf. Perfect. Tak peduli jarak dengan tetangganya yang masih cukup diisi satu orang lagi.

Ada juga orang-orang yang enggan mengisi ruang kosong ketika aku sudah mencoba bergeser dan memberi ruang yang cukup untuk mereka isi. Tinggal maju saja lho. Begitu saja kok harus menungguku untuk mempersilakannya, lantas mereka baru bersedia maju.

Hei, di sela-sela shaf yang tidak rapat itu akan diisi setan!

Dan aku pernah bilang
, bahwa Yahudi dan Nasrani, dua umat yang menggenggam dunia saat ini, begitu kuat karena mereka begitu solid. Jamaahnya kuat. Sedangkan kita, hanya sekedar merapatkan shof, hal yang remeh begitu saja, tidak becus. Lantas kapan umat kita menjadi umat yang kuat dan solid?