New Cap Coro ™

Kini Cap Coro ™ lebih minimalis dan responsif. Menggunakan logo (asal-asalan, bukan Cap Coro namanya jika tidak asal-asalan) yang baru, dalam balutan tema berwarna oranye dan hitam.

Blog ini lahir 5 Januari 2009 silam. Sudah 3 tahun lebih merekam hidupku. Seperti deskripsi di tampilan yang lalu, blog ini hanya berisi pikiran-pikiran, ide-ide, kejadian-kejadian, istilah-istilah asing, yang kepuncrut, remeh, gak penting, gonjess, ngewes, mbambes, plaur, lieur, bleguk, nggubis (kata ini unik hanya di Cap Coro, Google deh coba), nggacor, nggaplek’i, CAP CORO!

Aku bukan penulis berbakat pun bukan seorang grammar nazi (mungkin sedikit), jadi insyaAlloh sampai kapanpun blog ini akan kupertahankan menggunakan gaya penulisan seperti ini. Dibaca monggo, tidak juga tidak mengapa karena fungsinya memang sebagai perkamen kehidupan pribadi. Meski demikian, seiring dengan pergeseran minat yang lebih ke menggambar daripada menulis, pertambahan tingkat kemalasan untuk berbagi pemikiran, dan peningkatan kesadaran bahwa urip mung mampir nggubis™ adalah filsafat yang keliru, maka blog ini mungkin akan kehilangan ciri khas ‘real-time’-nya. Harap maklum.

Sejauh ini blog ini sudah mempublikasikan 519 tulisan, tidak sedikit namun juga tidak terlalu banyak, yang diklasifikasikan dalam 39 tags/kategori geje dan entah berganti tampilan berapa kali. Alih-alih bertambah absurd bin geje, semoga di masa yang akan datang blog ini lebih dari sekedar Cap Coro, lebih bermanfaat dan bermakna.

UPDATE:

Tidak lagi dalam balutan oranye dan hitam, sekarang kuganti secoklat kopi londho. Hihihi, betapa moodynya diriku.

Passionate Learning

This is a not-so-short guidance for anyone who will take SNMPTN.

Ketahuilah, tidak ada jaminan bahwa kuliah di perguruan tinggi akan memberimu ilmu yang bermanfaat, atau menunjukkan kepadamu akan seperti apa penghidupan dan kehidupanmu di masa yang akan datang.

But, insya Alloh, you are most likely to suceed in your campus life or in your future if you have a bit more passion in your learning.

Jadi, alih-alih engkau ingin menjadi siapa, ask yourself, kamu suka apa. Tidak perlu berkaca pada orang lain, pun tidak usah peduli mereka telah menjadi siapa dan bagaimana penghidupan mereka.

Let me tell you my own story.

Harga Teman

Orang Indonesia itu seringkali menyalahgunakan hubungan pertemanan. Yang sering terjadi padaku dan bisnisku adalah penerapan ‘harga teman’ atau ‘rego konco’. Lucu, karena mentang-mentang dia temanku lantas meminta bayaranku lebih dimurahkan sedikit, atau bahkan gratis.

Jika dari sudut pandangku, jika aku memberi ‘harga teman’ itu adalah sikap yang wajar. Karena dari sudut pandangku aku memberi, aku si empunya gawe dan bisnis. Itungannya aku sedekah. Tetapi jika dari sudut pandang si teman ini, ‘harga teman’ ini berarti dia meminta. Sedangkan dawuhe Rasulullah, tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Jadi dari satu hal ini saja, ‘harga teman’ itu suatu konsep yang aneh ditinjau dari sudut pandang si ‘teman’ atau si pembeli.

Yang kedua, si teman ini mungkin merasa berjasa terhadap si penjual pada masa lampau. Entah saat sekolah bersama sering mentraktir di kantin, atau memberi utang untuk bayar kuliah, atau apapun lainnya. Jadi, jika si teman ini menambahkan embel-embel teman pada hubungan bisnis, berarti dia tidak ikhlas dengan hubungan pertemanan tersebut dan segala lika-liku di dalamnya di masa lampau. Nah, hati-hati lho, tidak ikhlas dan riya’ itu bisa menghapus nilai amal!

Yang lebih aneh lagi, si pembeli ini menganggap kita adalah temannya, intinya orang yang lebih spesial. Namun dia meminta harga yang lebih rendah (bahkan gratis). Bukankah seharusnya sebagai teman dan pembeli justru dia melebihkan pembayaran, bukan sebaliknya?

Kesimpulannya, sebagai penjual, jika memang mampu memberikan ‘harga teman’ ya diberi sedikitlah. Itung-itung bersedekah dan menghormati hubungan pertemanan. Namun, sebagai pembeli, tidak perlu meminta ‘harga teman’ dalam arti mengurangi pendapatan si penjual, bahkan jika mampu lebih baik melebihkan pembayaran untuk menghormati teman sekaligus penjual tersebut. Ada flowchart lucu dari Jessica Hische tentang ‘harga teman’ ini di http://shouldiworkforfree.com.

Ingatkan aku dengan tulisanku ini jika aku sebagai pembeli di kemudian hari meminta ‘harga teman’ kepada penjual, atau kepadamu. Dadi wong Islam iku kudu profesional.

Grammar Nazi

Semakin lama aku merasa OCD-ku semakin menggila. Akhir-akhir ini, aku kian merasa menjadi jerk seperti Sheldon Cooper.

Ketika naik motor di jalanan, hobi baruku adalah mencerca tulisan apapun yang terbaca, yang ditulis dengan ejaan atau kaidah yang salah. Suatu ketika, ada bimbel yang memasang banner di daerah Sawojajar menawarkan cara belajar yang unik, ‘Games Methode’ katanya. Methode. Bimbingan belajar. Ejaan salah. Keminggris. Kudamprat setengah mati! Lain hari, ada seorang mantan mahasiswa jurusan Teknik Mesin, memakai jaket bertuliskan ‘Machine Engineering’. Langsung saja ku-ghibah, kucaci maki. “Sing bener iku ‘Mechanical Engineering’! Mahasiswa kok ra intelek!”, kataku sengit sembari membonceng si Nduk.

Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan kekeliruan itu. Namanya juga manusia, khan? Namun, seringkali aku mendapat kesan bahwa kekeliruan itu akibat para ‘desainer’ ataupun ‘copy-writer’ di belakang layar yang bekerja asal-asalan. Tidak dicek ulang, asal jadi, instan. Dan itu yang sungguh sungguh sungguh membuatku muak. Apa sih susahnya membuka kamus, atau Google? Riset sedikitlah, boy!

Sigh. Sekarang memang jaman instan. Apa-apa inginnya langsung jadi, durian runtuh. Lha iya kalo durian runtuhnya pas di depanmu, enak, la kalo akhirnya nibani ndasmu? Mbonjrot perot.

Jangan menjadi generasi asal-asalan! Dilarang!

P.S:
Omong-omong soal OCD, aku baru saja selesai memberi tanda letak monitor di mejaku. Biar setelah digeser-geser dan diarahkan untuk nonton film dari kasur, bisa kembali lurus menghadap kursi dan sejajar dengan meja dengan mudah.

_/”"|o *parah*

Jembar

Wong Islam kuwi yo, kudu jembar sembarange. Jembar atine. Jembar wawasane. Jembar donyane. Jembar pangapurane. Jembar sabare. Jembar jembar jeeeeeembaaar.

Ora oleh sithik-sithik ngamuk. Wong dodolan, spamming ning Facebook ae kok diseneni. Lha timbang ngrampok hayo? Lik ora keno dituturi yo ben wis.

Tak jembarno atiku dewe ah, wingi tipe 21 saiki tipe 36, saiki tipe 36 mbesuk tipe 45, trus tipe 54, trus 100, 100 ewu, 1 milyar. Lhe? Gehehehe.

*mengong, ngomong nang awakku dewe*

CTS

Aneh memang. Karena saat tanganku linu dan sakit seperti sekarang ini, yang dengan lebai kusebut sebagai CTS (Carpal Tunnel Syndrome), aku malah terpikirkan wristband dan headband punya si Hafiz, hadiah dari Firefox 4 Launching Party tempo hari. Entah apakah dia sudah memakainya dan bergaya ala retro sportsman saat bekerja atau dipakainya wristband itu untuk hal lain, aku bertanya-tanya.

Aku cekikikan sendiri, ngguyu gak jelas, dan sakitku tiba-tiba mereda.

Leha-Leha

Penyakitku yang kronis adalah kegemaranku untuk leha-leha. Setiap kali kebutuhan & keinginanku terpenuhi, selalu ada fase di mana otak dan tubuhku menagih untuk santai, untuk rehat, dalam waktu yang lama. Mungkin semua orang juga demikian ketika mereka jenuh dengan pekerjaan mereka, tetapi masalahku adalah waktu leha-lehaku yang sungguh tidak bisa dibilang singkat.

Parahnya lagi, ketika aku dalam mode yang sedemikian, daya kreatifku selalu tumpul. Sedemikian gigihnya nuraniku mengajakku untuk meneruskan urusan yang lain, untuk lebih produktif lagi, namun inspirasi dan ilham tak kunjung datang menghampiri. Design block.

Berita baiknya, sebenarnya aku sudah mengerti trik untuk bangun dari mode leha-leha itu: always set a new goal. Gampang lo jane yo, teorinya sih. Setiap selesai mengerjakan satu urusan, setiap kali tujuan kita terpenuhi, tetapkan tujuan baru lagi, tetapkan to do list baru, tetapkan rencana-rencana baru lagi. Make it big. Tetapkan tujuan yang tidak terlalu sulit dicapai, pun jangan tujuan yang terlalu mudah terlampaui. Goal yang terlalu mudah akan menggandeng perilaku menunda-nunda, dan gol yang terlalu sulit pun akan menjadikanmu pemimpi, hingga pada akhirnya akan terkubur bersama berlalunya waktu.

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap.

— QS. 94 : 7-8

Monitor as a Custom eBook Reader

Ini adalah hari bersejarah. Karena hari ini aku menyadari sedemikian tololnya diriku.

Jadi, begini kisanak, sudah lama aku bermasalah dengan ebook dan bacaan-bacaan yang menggunung tersimpan di komputer. Setiap kali membacanya, mataku selalu pedih, tidak tahan menatap tulisan-tulisan kecil di monitor. Apalagi monitor LCD di kostan kecil, untuk membaca satu halaman mesti scrolling karena tulisan dan tampilannya diperbesar agar terbaca dengan jelas. Intinya, membaca di komputer sungguh tidak nyaman.

Solusinya, ada 3.

Pertama, ngeprint. Ini adalah solusi baheula yang kukenakan untuk buku-buku bagus yang sering kujadikan referensi. Lumayan mahal, mesti keluar ongkos untuk kertas dan tinta printer. Namun experience membaca buku analog sungguh tak tergantikan dengan membaca ebook atau bacaan digital. Solusi pertama memberikan kenyamanan membaca buku yang sebenarnya.

Solusi kedua, beli ebook reader, misalnya Kindle atau iPad. Ebook reader memang didesain untuk membaca buku, portable, dan menjanjikan kenyamanan membaca. Namun, berhubung harga piranti itu di Indonesia masih relatif mahal, terpaut jauh dengan harga aslinya di luar negeri, jadi aku musti menunggu kepulangan temanku yang sekolah di luar negeri untuk mendapatkannya. Tidak lama kok, tahun depan.
_/¯|0

Solusi ketiga, adalah monitor rotation. Solusi sederhana ini adalah yang baru terpikir tadi pagi. Ah betapa bodohnya, baru terpikir sekarang. Dengan cara ini jarak mata dari monitor bisa lebih jauh, dan tidak perlu scrolling layaknya membaca buku sebenarnya. Lantas bagaimana caranya?

Cukup dengan merotasi monitor LCD menjadi portrait, lantas sandarkan di dinding. *DHUAR!*

Namun sebelumnya kulik dahulu setting display di operation system. Aku menggunakan Windows 7, settingnya seperti ini:

Settingan monitor di Windows 7

Lantas bagaimana bila letak monitor tersebut sedemikian rupa sehingga kita tidak bisa membuatnya bersandar di dinding? Solusinya, pakai book stand, yang tentu saja telah dimodifikasi. Lihat gambar di bawah ini:

Book stand serbaguna

Gunakan book stand bekas atau baru yang terbuat dari logam yang lumayan kuat, sekaligus fleksibel, dengan model yang menyerupai gambar di atas. Jangan terlalu lembek, tetapi juga jangan terlalu kokoh. Miringkan sedikit bagian atas penopang buku. Lantas rekatkan penghapus di bagian depan book stand sebagai ganjalan menggunakan lem super, misalnya: Alteco, Super Glue, dsb. Agar lebih aman, gunakan dua penopang buku untuk satu monitor.

Ingat, ini adalah cara akal-akalan untuk monitor yang tidak bisa dipasang secara portrait. Alangkah lebih baiknya, jika berencana untuk membeli monitor LCD/LED baru turut mempertimbangkan faktor rotasi monitor tersebut.

Aaaah, akhirnya.. mari membaca, saudara-saudara!

Pemeran Pengganti Lenna

Lenna itu gadis sampul Playboy yang namanya menjadi melambung di antara geek karena fotonya sering digunakan sebagai uji coba untuk aplikasi image processing.

Hari-hariku kini, disibukkan dengan audisi pemeran pengganti Lenna. Skripshit, lagi-lagi, deteksi wajah.

Model pertama: Kiki

Cah ayu yo dadine apik. Sudah terduga. *haiyyah*

Model kedua: Viona

Hmm, tidak terlalu akurat. Jilbab dideteksi sebagai bagian kulit wajah. Kurang ayu malih gak akurat. Kakakakakak.

Model ketiga: Hafiz

HAHAHAHAHAHAHA. Burisrowo kartun iki isok kedeteksi pisan HARE. HAHAHAHAHAHAHA asik rek.

*lara rek wetengku*

Proses segmentasi warna ini adalah tahap awal dari skripsiku. Sik dowo. Mugo-mugo lancar. Amiin.

Kisahku Hari Ini

Ijinkan aku menghela nafas terlebih dahulu.

*sigh*

Jadi begini, kisahku dimulai dari perkara skripshit. Skripsiku membutuhkan aplikasi yang mesti berjalan di platform Windows XP. Tidak bisa tidak. Aku sudah mencoba menginstal di Windows 7, compatibility mode, dan tetap gagal.

Akhirnya aku memutuskan memasang dual operation system, Seven dan XP. Kuinstal XP di sebuah drive kosong di hardisk kedua. Oke, finish, Windows XP jalan. Terdeteksi tanda keanehan: pilihan booting tidak muncul.

Apes pertama: Windows 7 gak jalan! Damn.

Kuutak-atik settingan boot di Windows XP, kusetting boot priority di BIOS, tetap tidak mempan. Windows 7-ku gak bisa dibooting. Akhirnya kuhapus Windows XP, dan masih juga tidak bisa boot Windows 7! Dabuk!

Akhirnya ngobrak-abrik DVD dan nemu installer Windows 7. Kuinstall.

Apes kedua: salah install Windows 7 32-bit!

Apes ketiga: DVD installer Windows 7 64-bit punyaku raib entah ke mana!

Apes keempat: persediaan DVD blank-ku habis! Akhirnya keluar dan beli satu DVD.

Install Nero lantas bakar DVD, aku make Windows 7 dari Ukas yang katanya sudah final release, bukan RTM. Selesai, lalu kuinstall.

Apes kelima: listrik dimatikan, perbaikan karena ada yang korslet di salah satu kamar kost. Teknisi datang untuk membenahi jaringan listrik di dalam loteng. Aku menunggu lumayan lama.

Lantas listrik kembali tersambung.

Apes keenam: Windows 7-nya ternyata versi Enterprise! Bukan Ultimate. Busuk! Salah install lagi! Ukas nggapleki infone.

Apes ketujuh: tadi cuman beli satu DVD, akhirnya balik lagi beli DVD blank.

Akhirnya kuinstall Windows 7 64-bit Ultimate versi RTM. Berhubung takut gagal lagi, akhirnya kuputuskan make Virtual PC, jadi Windows XP-ku berjalan di dalam Windows 7. Percobaan pertamaku. Download dari Microsoft installer Virtual PC, install, dan berhasil. Windows XP bisa jalan. Install aplikasi skripshitku.

Apes kedelapan: crack tidak tersedia! Leren download sik! MasyaAlloh, duso opo aku iki.

Saat aku menulis ini, aku masih dalam proses instalasi aplikasi skripshit.

*sigh*

Duh Gusti, kulo pengen lulus, sampun diparingi keruwetan malih. Punika sampun cekap Gusti, kulo nyuwun gampilipun pendamelan kulo.

Amiin.