Sepulang dari Bali

Baru kemarin aku sadar kenapa aku begitu tertarik dengan fotografi.

Bukan semata karena aku bisa memainkan cahaya sesukaku, bukan karena aku bisa membingkai warna-warna indah dunia, bukan karena fisika dan prinsip kerja kamera yang membuatku kembali seperti anak kecil yang selalu ingin tahu, bukan karena aku gila keindahan, bukan karena aku pecinta dan penikmat seni, bukan karena semua itu.

Namun terlebih karena aku manusia, dan aku ingin bercerita. Sesederhana itu.

Koneksi

Bisnis iku jane mung perkara telu iki lho:

1. Ide
2. Implementasi
3. Koneksi

Wis iku thok.

Trus lalapo se kok digawe angel-angel nemen? Dipikir sampe ngelu, sing ditemu malah keruwetan-keruwetan, ujung-ujunge mung jalan di tempat. Wis talah mlakuo sik, lik wis trus mlayu, lik wis isok mlayu baru mabur. Masalah ngko bakalan ceblok koyok pesawat Merpati, yo ngko wae, dipikir lik wis arep utowo bar ceblok! ;D

Ayok mlaku!

Tertiary

Mungkin, hingga akhir hayatku nanti, hanya akan 3 barang mewah yang akan selalu masuk dalam kategori wajib beli, wajib punya, dan wajib update.

Satu, super computer.

Dua, super internet connection.

Tiga, super camera kit.

Selain itu, sebisa mungkin aku akan menekan keinginanku. Tidak punya rumah magrong-magrong tidak mengapa, tidak punya mobil juga tidak mengapa, tidak punya gadget keren juga tidak mengapa. Kulkas, mesin cuci, tv, dan lain-lain cukup yang sederhana saja, cukup yang aku kami butuhkan saja.

But those three above, I really need to have those magnificent three. Cukup dengan diparingi kesehatan dan istri sholeh nan menawan hati, plus tiga barang tadi, Insya Alloh aku sudah terpuaskan kok. Gak aneh-aneh. Meski di rumah nanti istriku hanya bisa nggoreng ikan asin dan nyambal terasi plus lalapan, aku nggak akan protes. I’m that simple.

Hehehe, what a nerd.

Standard

Maaf saja kawan, tetapi sekarang standarku lebih tinggi. Maksudku standar pengakuanku terhadap pencapaianmu. If your work don’t really blow my mind, I won’t acknowledge you. Bukan sombong, bukan karena aku lebih hebat, tetapi karena aku sudah cukup banyak melihat, mendengar, dan meresapi karya yang lebih hebat dan jauh bermakna dari karyamu.

Fotografi misalnya, jika kupikir aku atau orang lain bisa mengambil foto dengan kamera hape biasa dan photoshop untuk menghasilkan foto yang kau ambil dengan DSLR, well, jangan harap aku memberikan ‘Like’ di Facebook. Atau jika grup musik dan lagumu hanya sekedar mengikuti selera pasar, tanpa jiwa, tanpa roh, mung unen-unen, jangan harap aku sudi memasukkanmu dalam playlist Winamp.

Aku mengakui effortmu, usahamu, pekerjaanmu, ketekunanmu, bahkan aku sendiri mungkin butuh waktu yang lebih lama atau tidak akan pernah bisa di posisimu. Namun jika hasilnya sekedar so-so, kamu belum layak dapat bintangku. No offense. Belajar lagi ya, ok?