Orang Indonesia itu seringkali menyalahgunakan hubungan pertemanan. Yang sering terjadi padaku dan bisnisku adalah penerapan ‘harga teman’ atau ‘rego konco’. Lucu, karena mentang-mentang dia temanku lantas meminta bayaranku lebih dimurahkan sedikit, atau bahkan gratis.
Jika dari sudut pandangku, jika aku memberi ‘harga teman’ itu adalah sikap yang wajar. Karena dari sudut pandangku aku memberi, aku si empunya gawe dan bisnis. Itungannya aku sedekah. Tetapi jika dari sudut pandang si teman ini, ‘harga teman’ ini berarti dia meminta. Sedangkan dawuhe Rasulullah, tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Jadi dari satu hal ini saja, ‘harga teman’ itu suatu konsep yang aneh ditinjau dari sudut pandang si ‘teman’ atau si pembeli.
Yang kedua, si teman ini mungkin merasa berjasa terhadap si penjual pada masa lampau. Entah saat sekolah bersama sering mentraktir di kantin, atau memberi utang untuk bayar kuliah, atau apapun lainnya. Jadi, jika si teman ini menambahkan embel-embel teman pada hubungan bisnis, berarti dia tidak ikhlas dengan hubungan pertemanan tersebut dan segala lika-liku di dalamnya di masa lampau. Nah, hati-hati lho, tidak ikhlas dan riya’ itu bisa menghapus nilai amal!
Yang lebih aneh lagi, si pembeli ini menganggap kita adalah temannya, intinya orang yang lebih spesial. Namun dia meminta harga yang lebih rendah (bahkan gratis). Bukankah seharusnya sebagai teman dan pembeli justru dia melebihkan pembayaran, bukan sebaliknya?
Kesimpulannya, sebagai penjual, jika memang mampu memberikan ‘harga teman’ ya diberi sedikitlah. Itung-itung bersedekah dan menghormati hubungan pertemanan. Namun, sebagai pembeli, tidak perlu meminta ‘harga teman’ dalam arti mengurangi pendapatan si penjual, bahkan jika mampu lebih baik melebihkan pembayaran untuk menghormati teman sekaligus penjual tersebut. Ada flowchart lucu dari Jessica Hische tentang ‘harga teman’ ini di http://shouldiworkforfree.com.
Ingatkan aku dengan tulisanku ini jika aku sebagai pembeli di kemudian hari meminta ‘harga teman’ kepada penjual, atau kepadamu. Dadi wong Islam iku kudu profesional.