Seperti biasa, hampir di setiap perayaan lebaran, di setiap get-together yang diadakan oleh keluarga besarku di awal Muharram, aku bisa mencatat adanya suatu tema tertentu. Untuk Lebaran tahun ini, bertemakan sekolah.
Super. Boring.
Ada kerabat yang jauh-jauh menempuh studi lanjutan mengenai desain web di luar negeri hanya untuk mendapatkan ilmu yang kukira tak jauh beda dan tak lebih dalam dari hasil belajar mandiri dan gawenya temanku, si Hafiz. Ada juga kerabatku yang lainnya, yang rupanya bernasib hampir mirip denganku, terlambat menyadari bahwa kuliahnya dan passionnya yang sekarang sungguh jauh bertolak belakang. Ada juga yang curhat betapa rumitnya mencari penghidupan untuk membiayai anaknya yang bercita-cita untuk sekolah kedokteran. Dan aku, aku juga tak luput didesak-desak untuk melanjutkan sekolah S2.
Aih, old skool tenan.
“Ora sekolah, tapi kan belajar. Dan menghasilkan,” selalu begitu kilahku. Setiap aku berkilah, batinku selalu tertawa karena teringat oleh satu gelar lucu di satu halaman Facebook, Gelar BB., Sb. Pun setiap aku berkilah, aku selalu kembali bertanya apakah aku benar telah berkarya dan menghasilkan atau sekedar nggubis kepada orang-orang itu.
Jangan salah sangka, teman. Aku bukan anti-sekolah. Aku hanya anti kepada kemubadziran. Dan bolehlah sedikit ditambahkan bahwa aku memang malas untuk sekolah lagi. Menurutku, sekolah, khususnya kuliah di perguruan tinggi, mempunyai tiga manfaat utama. Yang pertama, berkaitan dengan waktu. Yang kedua, adalah komunitas. Dan yang ketiga adalah perolehan gelar.
Pertama, tentang waktu. Kukira, dengan sekolah, akan lebih mempercepat waktu belajarmu. Kita diberi sekian waktu jadwal untuk belajar di kelas, jadwal uji coba di lab, jadwal untuk belajar mandiri, serta jadwal lulus yang mau tidak mau mesti kita tepati karena kita terikat dengan sistem sekolah tersebut. Alokasi waktu yang telah terjadwal ini, serta kedisiplinan kita untuk menepatinya kukira akan mempercepat proses pemahaman kita, dibandingkan dengan jika kita otodidak atau belajar mandiri tanpa sekolah.
Namun, perkara waktu ini sungguh relatif. Banyak orang merasakan sulitnya untuk mengatur waktu, berdisiplin, dan menggiatkan diri untuk belajar mandiri. Aku pun turut merasakan kesulitan itu. Aku berperang sekian lama melawan ketidakdisiplinanku. Akan tetapi, seandainya saja kita mampu mengalokasikan waktu untuk belajar mandiri layaknya jadwal belajar di kelas, kukira itu sudah cukup menjadi modal untuk menolak sekolah. Dan aku, aku memilih jalan itu.
Kedua, perkara komunitas. Disadari atau tidak, belajar dengan orang banyak, berkelompok, bertemu dengan orang-orang yang mempelajari satu bidang ilmu yang sama dengan kita, adalah pengalaman yang sungguh menyenangkan. Selain itu, dari komunitas itu mungkin kita bisa mendapatkan mentor, guru, dosen, ‘penilai’ hasil belajar kita. Mungkin ada dari kita yang berkilah bahwa internet telah memfasilitasi hal itu, untuk bersosialisasi dan belajar bersama. Namun, kurasa, komunitas online di dunia maya belum bisa menggantikan komunitas yang terbentuk saat kita sekolah. Sahabat-sahabatku hingga kini adalah orang-orang yang dulu pernah satu SMP, satu SMA, atau satu perguruan tinggi denganku.
Lantas, solusinya? Ya bangunlah sendiri komunitas itu atau bergabung dengan komunitas yang sudah terbentuk. Jika ingin belajar fotografi, ya bergabung saja dengan komunitas fotografi, hunting bareng dengan mereka, silaturrahmi. Belajar mandiri lantas berkumpul dengan orang-orang yang berminat pada satu bidang ilmu yang sama adalah lebih baik daripada belajar nggethu dari buku, dari internet, praktek di mini lab di rumah, sendirian. Sudah terbukti.
Ketiga, perkara gelar. Dunia ini masih membutuhkan orang-orang dengan gelar tertentu. Tetapi di era global sekarang ini, orang-orang akan mulai lebih melihat track record, real skill, dan portofolio. Dan di duniaku yang sekarang, aku sungguh tidak membutuhkan gelar akademik apapun. Persetan dengan korporasi atau orang-orang yang menilai orang lain dari embel-embel gelar di depan atau di belakang namanya. Sudah cukup bagiku satu gelar, muttaqien, yang insyaAlloh akan kukejar untuk kudapatkan sampai nanti aku mati.
Intinya, aku akan sekolah, jika aku merasa butuh untuk sekolah. Aku dengan senang hati membuang uangku, jika aku merasa sekolah itu lebih menyenangkan, lebih mempercepat pemahamanku akan suatu ilmu, dan lebih mempermudahku.
Tidak sekolah, tetapi bukan berarti saya bodoh.
Salam manis dan cumbu mesra *haiyyah*,
Rukma Pratista, BB., Sb.