Jadi begini, Aikido yang kuikuti itu adalah aliran Yoshinkan/Shudokan. Aliran ini adalah aliran lama yaitu sebelum Perang Dunia II.
Berdasarkan fakta itu, aku mikir bahwa aliran ini adalah aliran Aikido yang lembut, karena periodenya lebih lama, lebih asli. Dan ternyata, aku salah.
Crap!
Yang pengen kugeluti itu sebenarnya adalah Aikikai, aliran yang langsung dari O-Sensei, Morihei Ueshiba, yang dikembangkan setelah Perang Dunia II (mbuh gimana sejarahnya, pokoknya ini yang ternyata yang lebih asli dari pendiri Aikido). Aikikai itu lebih lembut, gerakannya mengalir, hampir mirip Taichi. Nah, itu yang aku suka sebenarnya. Pokoknya tau-tau diputer-puter terus musuhnya terbang njengkang aja. Asik wis pokoknya itu. Sakti mbois abis.
Sedangkan Shudokan itu lebih linier, lebih keras (tau sendiri kan, beda jaman, waktu itu kan masa perang), lebih taktis. Meskipun toh tidak bak-buk-bak-buk seperti Judo, Jiu-Jitsu, atau Karate, tapi gerakannya yang mengalir sedikit dikurangi, gerakannya lebih praktis. Makanya, Shudokan ini diajarkan untuk pasukan bela diri Jepang.
Dan dari pengamatanku selama latihan ini, memang tampaknya demikian. Shudokan itu lebih linier, gak mbulet-mbulet.
Oalah, nasibku rek, ya wis lah, wis kadung nyemplung, didalami aja. Lagian dojo Shudokan di Bandung ini adalah satu-satunya dojo di Indonesia, ada sauna sama jacuzzi-nya lagi, gak popo wis, gak rugi.
Satu lagi, Aikido itu kemungkinan besar gak bakal bikin badan jadi kekar, manol-manol. Karena memang inti sari gerakannya adalah dengan sesedikit gerakan mungkin, seefektif mungkin untuk melumpuhkan lawan. Cocok wis gawe wong males koyok awakku. That’s why I decided to join this art! Hwahahahahaha.