Lho, lho, lho, kok orang-orang sekarang itu semakin gencar mengidolakan orang yang sedikit lebih beken ya. Lihat saja di TV, ada orang yang ngefans banget sama artis A, direwangi ngutang ke mana-mana buat dandan mirip artis itu, ato ada juga negarawan yang mengkultuskan sosok Soekarno, Hatta, SBY, mengidolakan Obama sebagai satria piningit, ato tengoklah kontes-kontes pencarian idol yang pada akhirnya semakin memperbanyak fans-fans goblok yang fanatik sempit, dan sebagainya, dan sebagainya.
Kok nggak mau belajar dari pengalaman sih. Hoi! Manusia-manusia yang kamu idolakan itu pasti akan mengkhianati kamu!
Soekarno jadi idola, jatuh, diganti Soeharto, jatuh, diganti Habibie, jatuh, teruuuus gitu. Dan yang lucu, Obama ilo cuman numpang gedhe di Jakarta, la lapo se memikulkan harapan pada orang yang bukan merah putih di dadanya? Ngapain terus semua orang gegap gempita mengidolakan Obama? Mana buktinya sekarang? Hasil kerjanya apa? Ah, nggak usah deh ngomongin jaman-jaman AFI berjaya, skip. Cuman capek ngetik.
Mengkultuskan manusia yang kamu sudah pasti akan dikhianati itu goblok.
Idolaku cuman satu, Kanjeng Rasululloh. Wis iku thok. Soalnya apa, soalnya aku gak bakal dikhianati. La mbok ya mereka nyari idola yang seperti itu, ngefans ke manusia yang bisa menyelamatkan mereka, mengidolakan orang yang bisa memberi syafaat, meneladani orang yang seperti itu.
Mengambil suri teladan, atau meniru yang baik-baik dari orang lain sih nggak papa, tapi mbok ya nggak usah sampe ngefans banget gitu. Laku kritis! Berlakulah dengan kritis! Jo muk sukur fanatik gak jelas. Goblok itu.