Sruput

Seperti kebanyakan orang tua dan penikmat kopi di Indonesia, aku juga mempunyai kebiasaan menghela nafas dan meniupkan uap-uap kopi di akhir setiap sruputan. Seperti halnya orang Jepang yang nyeruput kuah mie ramen keras-keras untuk menunjukkan penghargaan mereka kepada si pembuat mie, helaan nafas kami bisa pula dianggap sebagai apresiasi kami terhadap minuman kopi tersebut.

Ternyata, ada yang selama ini diam-diam mengamati kebiasaanku itu: anakku, Hagi, yang masih berumur 10 bulan.

Pagi tadi, aku menggendong Hagi dengan tangan kiriku. Tangan kananku meraih gelas kopi. Sluuurp…. Dan Hagi tiba-tiba menghela nafas, haaaaah. Aku nyeruput lagi, dia yang menghela nafas lagi. Berulang-ulang.

Sontak aku tertawa. Hagi made my day.

Nilai

Kemarin, aku sedikit berdebat dengan ibuku.

Mulanya ibuku bercerita bahwa kakekku pernah menggunakan cara yang sederhana untuk menguji karakteristik putra-putrinya. Caranya yaitu dengan menyuguhkan makanan untuk disantap kembulan, atau bareng-bareng dalam satu nampan besar untuk semuanya. Dari pola makan kembulan putra-putrinya, kakekku menilai bagaimana karakter mereka. Ada yang makannya serakah maka dinilainya sebagai anak yang serakah, yang makannya sedikit adalah anak yang suka mengalah, yang suka berbagi lauk adalah anak yang tidak egois, dan sebagainya.

Aku pun menyeletuk, bahwa jika semudah itu menilai karakter manusia maka sesungguhnya kita tidak membutuhkan lagi belajar ilmu psikologi. Hehe, biasalah, skeptis akut Cap Coro.

Pikirku, kok enteng jika karakter manusia yang begitu kompleks, yang terbangun dari kristal-kristal pengalaman hidupnya, bisa kita nilai dari satu kejadian saja. Untuk kasus kembulan di atas, bukankah bisa saja yang serakah itu ternyata telah berjam-jam menahan lapar, yang sedikit makannya sebenarnya memang tidak doyan makan, dan yang berbagi lauk ternyata tidak menyukai lauknya? Lha wong, Khidir AS yang nabi saja menetapkan tiga perkara untuk benar-benar “menilai” Musa AS. Mosok ya manusia-manusia kroco semacam kita ini dianugerahi karomah yang melebihi nabi? Ah, mana ada.

Namun, sejatinya aku pun tidak rela jika ada upaya untuk menghilangkan kebiasaan menghakimi, menilai, memberi label kepada orang lain. Karena itu lumrah, menurutku. Yang demikian itu adalah sifat dasar manusia. Dan sesungguhnya manusia yang bijak adalah yang hidup berdasar sunatulloh, tidak menentang naluri-naluri dasar kemanusiaannya, tidak berlebihan, dan mampu mengarahkannya pada jalan yang benar. Ambillah contoh kasus memilih jodoh. Bukankah wajar jika kita menilai dahulu kepribadian si calon pendamping, keelokan hati dan rupanya, baru kemudian memutuskan untuk menikahinya?

Hidup ini adalah urusan nilai-menilai, kawan. Baguskah nilaimu?

Wallohu a’lam.

Kata

Hujan hari ini
membukakan pintu kerinduanku pada impi lara,
pada saudjana, pada sosok-sosok yang dahulu berlari-larian
mengejarnya, berteriak, memuntahkan kata

Ketahuilah, kawanku,
kata-kata telah terhanyutkan usia,
mereka tenggelam dalam sunyi syahdu kembara
petualangan, pencarian kepada muara

Mungkin dentang girang lantang semesta
turut menanggalkan kata dari binar kemegahannya
Pun mungkin, segala kepahitan yang teredam
telah enggan berbisik mengiris
mengajak pada malam-malam sedu tetangis

Aku tak tahu

Yang kutahu,
sesungguhnya kata masih bergemuruh dalam kesunyiannya,
masihlah bersenandung dalam nada kesendiriannya
kata hanya menjelma, merupa
karya

Suatu hari, kawanku,
sejenaklah menengok

Offline Friday

Dulu aku pernah mendedikasikan Jumat sebagai hari baca.

Now, I want to take it further.

Aku ingin mencoba menjadikan Jumat sebagai hari bebas internet. Offline day. Sekedar bebas internet, karena aku belum bisa sepenuhnya off the grid. Jadi aku mungkin masih akan bermesra-mesraan dengan komputer dan Kindle.

Kenapa kok offline?

Entahlah. Akhir-akhir ini aku merasa hidupku terlalu didefinisikan dengan segala perangkat yang kupergunakan, internet adalah salah satunya. And I hate that kind of living. Aku hanya merasa enggan untuk terlalu bogoh kepada teknologi, atau fashion, atau lainnya. Kupikir aku ini sudah cukup hubud dunya, dan aku harus berhenti.

We shape our tools, but our tools don’t have to shape us. Menurutku sih begitu.

Doaku Untuk Anakku

Umumnya, para bayi baru bisa membedakan kondisi siang dan malam, bangun di siang hari dan tidur di malam hari, kira-kira ketika menginjak usia 4 atau 5 bulan. Anomali jam dan pola tidur bayi pada fase awal pertumbuhan mereka tersebut adalah salah satu momok yang sering dikeluhkan para orang tua baru.

Sebenarnya ada trik-trik yang bisa diterapkan untuk mengajarkan pola tidur orang dewasa pada bayi. Beberapa referensi menganjurkan untuk meminimalisasi interaksi di malam hari ketika bayi terbangun, dan sebaliknya, memperbanyak aktifitas dan mengurangi tidur bayi di siang hari. Saat malam, orang tua bisa sedikit mengacuhkan si bayi dan hanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, seperti minum susu atau ganti popok. Dengan demikian, bayi bisa belajar mengenali bahwa malam adalah waktu untuk orang dewasa tidur, waktu yang sunyi dan sepi, hingga akhirnya si bayi belajar memilih untuk lebih banyak beraktifitas di siang hari dan tidur di malam hari. Ada juga Ferber Method yang cukup sering diadopsi di film-film Hollywood, meski dinilai sedikit ekstrim dalam upayanya untuk menidurkan bayi, bisa dibaca di Wikipedia dan BabyCenter.

Alkhamdulillah, sejak usia anakku 1,5 bulan, aku dan istriku tidak lagi direpotkan dengan masalah anomali tidur itu. Sejak usia itu hingga kini beranjak 4 bulan, Hagi, anak kami, akan beranjak tidur setiap ba’da Isya hingga pagi subuh.

Namun, jujur, kami tidak pernah benar-benar mencoba cara yang kusebutkan di atas. Jika aku juga terbangun (istriku yang lebih sering bangun malam), aku malah lebih sering membuat keributan dan merecoki istriku dengan mengajak Hagi bermain. Aku dan istriku tidak menggunakan metode apapun, kecuali mungkin satu amalan yang kulakukan dulu ketika istriku mengandung: setiap ada kesempatan, aku selalu berdoa dan membisikkan harapanku tentang Hagi sembari mengelus-elus perut istriku yang hamil membuncit, juga setiap selesai sholat.

Serius. Kutuliskan di sini tanpa bermaksud untuk riya’ dan sombong, semoga.

Aku sudah berulang kali membuktikan bahwa melalui doa, dengan uluran bantuan Allah, semua hal di dunia ini adalah mungkin untuk terjadi. Maka jika aku menginginkan anakku termasuk dalam kategori low maintenance, aku mendoakannya demikian. Pun jika aku menginginkannya untuk kelak bisa menghidupkan namanya yang Salman, yang Rahmadya, yang Rahagi, yang Hagi, dapat berperilaku aktif, gigih, cekatan dalam menebarkan kasih sayang dan kedamaian bagi lingkungannya, dianugrahi Allah kasih sayang dan cahaya kebijaksanaan, maka aku mendoakannya demikian.

Hampir semua harapanku untuk Hagi tertuang pada doaku, kusebutkan dan kulantunkan dengan detail. Aku berdoa agar dia menjadi anak yang shalih, sehat jasmani rohani, bagus dan rupawan, tidak sakit-sakitan (Hagi cukup kebal terhadap penyakit, alkhamdulillah), menjadi anak yang cerdas, tidak terlalu rewel, tidak selalu ingin digendong (karena ada keponakanku yang sering menangis jika tidak digendong), gampang makannya, tidak pilih-pilih makanan, tidak banyak alergi, cekatan dalam segala hal, penurut, aktif tetapi tidak hiperaktif, pandai mengaji Quran, rajin sholatnya, jujur, dan rendah hati. Aku dan istriku juga selalu dan selalu berdoa agar Hagi bisa senantiasa menyenangkan hati kami orang tuanya dan orang-orang lain di sekitarnya.

Sayangnya, aku melupakan satu hal, sang ibu. Aku hanya mendoakan sekenanya untuk istriku. Dan mungkin, tanpa bermaksud merendahkan kuasa dan kehendak Allah, itulah yang menyebabkan ASI istriku tidak terlalu bancar. Aku menyesalinya hingga kini.

Sejauh ini sebagian besar doaku terkabulkan, alkhamdulillah. Setiap pagi, aku bekerja dari rumah, di depan komputer, dan Hagi selalu menemaniku di ranjang di ruang kerjaku. Jarang sekali rewel, hanya sesekali menangis ketika merasa lapar, dan kembali tenang untuk bermain atau melantunkan suara-suara khas bayi ketika sudah kenyang. Sungguh sungguh menyenangkan. Aku malah pernah sesumbar tidak lagi membutuhkan white noise dan Coffitivity, suara Hagi sudah cukup.

Teruntuk para calon orang tua (heh Fiz, Hafiz!), doakanlah calon anakmu, semenjak dia masih di dalam kandungan. Ajaklah berinteraksi sejak anak sudah bisa mendengar meski masih di dalam kandungan. Perbaikilah kesalahanku, doakan juga si ibu, mintalah anugerah keselamatan dan kesehatan untuknya ketika mengandung, ketika melewati proses melahirkan, hingga nanti ketika bersama-sama membesarkan anak.

Aku selalu percaya, doa mampu menciptakan generasi yang lebih baik. Aku harap engkaupun demikian.

Old Habits Die Hard

Dulu aku pernah punya dua tumblog aktif di Tumblr. Yang satu berisi sketsa-sketsa tentang keseharianku, hampir mirip dengan Cap Coro namun berupa gambar-oretan, dan yang satu lagi berisi puisi-puisi picisan. Tumblog yang berisi gambar sudah mati, karena waktu itu aku menggunakan image hosting gratisan, yang kemudian tiba-tiba saja mati membawa data-data gambarku bersama mereka. Sedangkan yang berisi puisi-puisi amburadul masih hidup hingga sekarang, meski sudah lama tidak ada lagi gegombalan baru yang kutuliskan di sana.

Baru-baru ini, bersama dua sahabatku, Hafiz dan Vio, aku menjadi penggembira dalam blog Kursibaca, membahas tentang buku sebagai pop culture, dan menulis resensi-resensi. Kemudian, baru mulai seminggu yang lalu, aku membuka lagi satu tumblog baru untuk Gravakadavra, studio desainku (studio virtual). Di sana aku ingin mencoba membahas tentang desain, freelancing, menjadi seorang homeworker, dan tetek bengek personal development lainnya.

Jujur, akhir-akhir ini aku sebenarnya tidak terlalu termotivasi untuk menulis. Aku menyibukkan diri dengan anakku yang kini hampir berumur 4 bulan, dan mengerjakan proyek-proyek pribadi sehingga aku semakin jarang menulis. Seperti yang pernah kutuliskan dahulu, Cap Coro pun akhirnya kehilangan identitas awalnya sebagai real-time blog. Aku juga memberi batasan kepada diriku sendiri bahwa sesuatu yang kutulis haruslah sesuatu yang “bersuara”, yang bermakna, karena urip mung mampir nggubis adalah filsafat yang keliru. Aku tidak lagi berani sesumbar dan berkoar-koar, aku ingin menjadi lebih dewasa.

Membayangkan diriku menuliskan tentang sesuatu yang tidak kuketahui, katakanlah tentang buku dan desain, sedangkan aku hanya book hoarder dan tukang bikin logo, membuatku minder. Pada awal pembentukan Kursibaca (hingga hari ini), aku cukup rendah diri ketika Hafiz mengajakku untuk menulis resensi. Aku tidak pede, aku tidak ingin menulis sesuatu yang aku bukan ahlinya.

Namun kemudian aku sadar bahwa aku juga punya ide, aku punya gagasan, aku punya uneg-uneg, dan mereka cukup penting untukku. Seharusnya mereka kurekam, kujelajahi, tetapi mereka akhirnya sekedar mampir sejenak dalam benak tak tertuliskan. Sungguh sayang, kupikir. Bukankah pula ada hikayat bahwa seorang fulan terbebas dari neraka karena ada kawannya yang calon penghuni surga tidak ridha si fulan masuk neraka hingga akhirnya bernegosiasi dengan Tuhan dengan mengatakan bahwa si fulan telah ber-amar ma’ruf kepadanya semasa hidupnya?

Maka, mulai sekarang, aku ingin lebih ajeg menulis.

Aku ingin lebih bisa menyisihkan waktu, untuk menebar ilmu, menuliskan sesuatu yang kuketahui, dan mungkin akan lebih banyak lagi tentang sesuatu yang tidak kuketahui. Aku penasaran, aku ingin tahu bagaimana mengemas, merekam, dan menyebarkan ide-ideku. Mulai hari ini, semua blogku bukan lagi sekedar perkamen pribadi. Semoga semuanya lebih mencerahkan dan membuka wawasan.

Bismillah.